Kamis, 20 Januari 2022

Karakter Ideal Perempuan Perspektif al-Qur'an

Perempuan seringakali dipersonifikasikan sebagai makhluk yang lemah, makhluk kelas dua yang tidak penting keterlibatannya dalam aspek public terutama pada aspek politik dan pemerintahan. padahal jika kita kaji secara mendalam ayat-aray al-Qur'an maupun hadis dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan, maka akan ditemukan fakta bahwa ternyata perempuan itu adalah makhluk Allah yang luar biasa hebat sebagaimana hebatnya makhluk manusia ciptaan Allah lainnya yakni kaum laki-laki. Secara fisik dan psikologis harus diakui bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan pasti ada namun perbedaan tersebut tidak untuk mendapatkan diskriminasi pada pihak yang satu atas pihak yang lain. Dalam istilah Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA seorang ilmuan muslim terkemuka pakar Gender dan berwawasan Islam moderat di Indonesia sekaligus saat ini menjabat sebagai imam besar masjid istiqlal Jakarta beliau menyatakan bahwa "Islam mengakui adanya distinction namun bukan discrimination" ini berarti bahwa antara manusia laki-laki dan perempuan sudah pasti ada perbedaannya namun perbedaan yang ada itu tidak boleh menjadi justifikasi untuk merendahkan apalagi merugikan jenis kelamin lainnya.
Citra negatif perempuan muncul akibat banyak faktor salah satunya adalah keterbatasan dalam memahami kajian kitab suci dengan memahami ayat maupun hadis sebatas tekstual belaka. Hal tersebut berakibat terjadinya pelanggengan dan justifikasi atas tugas-tugas domestic perempuan yang pada gilirannya seiring berjalannya waktu seolah dipatenkan pembagian kerja dalam relasi laki-laki dan perempuan bahwa laki--laki di medan publik dan perempuan di ranah domestik. Berangkat dari problematika ini yang melahirkan ketidakadilan gender dalam masyarakat yang cenderung merugikan kaum perempuan apalagi sebagian besar perempuan sudah menerima kenyataan seperti itu sebagai kodrat, akibatnya perempuan cenderung apatis dan tidak kreatif. bahkan nilai kemandirian menjadi berkurang dan terancam hilang akibat doktrin domesik atas nama Islam. padahal perempuan berpeluang untuk berkiprah lebih luas dengan kemandirian-kemandirian yang dicontohkan oleh sosok-sosok perempuan hebat dalam al-Qur'an itu sendiri. Tulisan ini mencoba mengkaji karekter ideal perempuan perspektif al-Qur'an untuk membongkar pemahaman keliru terhadap kodrat perempuan yang selama ini merajalela di kalangan masyarakat.
jika kita mengkaji lebih jauh al-Qur'an maka kita akan menemukan sosok -sosok perempuan yang sangat hebat kiprahnya di ranah publik. sebutlah misalnya sosok Ratu Balqis yang diabadikan kisahnya dalam QS. 27/ al-Naml ayat: 22- 44. ada 2 putri nabi Syuaib yang begitu ahli memelihara dan mengendalikan ternak-ternaknya hingga menemukan cinta sejati dalam profesinya tersebut. kisah ini diabadikan dalam QS. 28/ al-Qashash ayat 22-29. ada Ratu Asia istri Raja zalim nan diktator yakni Fir'aun  tetap mampu mempertahankan keimannannya kepada Allah meskipun berdampingan dengan Raja yang sangat angkuh dan ingkar pada Allah inilah sosok perempuan paling pemberani dan tidak tergoda oleh pangkat, jabatan dan keduudkan duniahinggawi sepanjang sejarah peradaban manusia.  rela mati di tangan suaminya sendiri demi mempertahankan keyakinannya. Dalam penyiksaannya dia ber'doa kepada Allah, Do'anya diabadikan dalam QS. 66/al-Tahrim ayat 11). Berangkat dari kisah-kisah ini, maka dapat  dipahami bahwa  karakter ideal perempuan dalam al-Qur'an yang paling mendasar adalah karakter kemandirian. karakter kemandirian meliputi 3 dimensi yaitu:
1. Istiqlal al- Syahsyi (kemandirian menentukan hak-hak personal tanpa mau diinterfensi). hal ini dapat kita lihat dari kisah Ratu Asia.
2. Istiqlal al-Iqtishaadiy (kemandirian di bidang finansial/ekonomi), hal ini dapat kita petik dari kisa 2 putri Nabi Syuaib. implementasinya saat ini tentu saja semakin luas tak bertepi karena berkembangnya peluang bisnis yang mampu melibatkan perempuan bukan hanya sebagai konsumen tapi juga sebagai produsen dan distributor yang patut dibanggakan. hal tersebut diperkuat dengan situasi dan kondisi yang saat ini lebih menekankan pada aspek otak bukan lagi dominasi otot. Sangat beda dengan potret kedua putri Nabi Syuaib  yang terbatas pada kemampuan beternak saja sesuai zamannya yang mana kehidupan saat iyu masing sangat sederhana dan belem berkembangnya iptek dan sains modern.
3. istiqlal al-ssiyaasyi (kemandirian di bidang politik), hal ini Ratu Balqis menjadi rujukannya yang menjadi pimpinan tertinggi dari sebuah negeri yang bernama Saba' yang diabadikan indahnya dan keberhasilannya dalam dalam al-Qur;an dengan istilah baldatun Thayyibatun wa Rabbun Gafuur. ini berarti bahwa kepemimpinan kaum perempuan di ranah publik kehidupan sosial kemasyarakatan tidah jaman lagi diperselisihkan sepanjang perempuannya memiliki kapabilitas untuk memimpin.
Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa perempuan itu kodratnya tidak hanya mengurus rumahtangga, namun berhak pula terjun ke dunia profesional tergantung bakat, minat, pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, sains dan teknologi dalam berbagai bidang sudah pasti keterlibatan perempuan mutlak adanya. mereka harus diberi ruang, dihargai sebagimana halnya pekerja profesional lainnya tanpa harus mempertimbnagkan jenis kelaminnya.
wallahu a'lam bissawab

3 komentar:

7 PERBEDAAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM

Mengawali pertemuan ini marilah kita bersama sama mengumandangkan lafaz pujian kepada Allah Azza wajallah sang pemilik segala kenikmatan den...