Rabu, 29 Juli 2020

Korelasi poligami dengan Qurban

salah seorang Nabi Allah yang paling fenomenal dalam sejarah khususnya kasus kesuksesannya dalam melakukan praktek poligami adalah Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim adalah sosok laki-laki yang sangat cinta dan setia pada istrinya yakni Sarah. pada suatu hari keduanya melakukan perjalanan dari Palestina ke Mesir atas undangan dari raja mesir saat itu, keduanya begitu sangat bahagia menjalani kehidupan yang sangat bahagia hingga tibalah di istana raja Mesir dalam rangka memenuhi hajat Raja yang menghendaki putranya diobati oleh Sarah karena ternyata Sara adalah sosok perempuan yang memiliki kemampuan melakukan pengobatan. setelah beberapa waktu mengobati putra Raja Mesir diapun sembuh dan akhirnya sebagai tanda terimakasih sang Raja kepada Sarah, maka dihadiahilah seorang budak sahaya yang berkulit hitam legam, pekerja kasar, dan sangat tidak menarik dari tampilan fisik. sangat kontras dengan Sarah yang berlatar belakang putri kalangan bangsawan yang putih bersih dan sangat halus kulitnya, santun perangainya, sangat cantik, menawan lagi rupawan. akan tetapi setelah puluhan tahun Nabi Ibrahim menikah dengan Sarah tidak ada tanda-tanda akan adanya keturunan diantara mereka. sementara mereka yakin akan perlunya keturunan dalam melanjutkan misi dakwah nabi Ibrahim. atas kesepakatan keduanya diputuskan agar Nabi Ibrahim melakukan praktek poligami dangan syarat-syarat yang diajukan oleh Sarah sebagai berikut: 1. tidak boleh cantik 2. tidak boleh mudah 3. harus dari kalangan sendiri Satu-satunya perempuan yang memenuhi syarat tersebut adalah Hajar, maka Sarah pun merekomendasikan hajar ke Nabi Ibrahim untuk dinikahi dan atas persetujuan Sarah dan Nabi Ibrahim serta Hajar maka menikahlah Nabi Ibrahim dengan Hajar sang pembantu rumah tangga mereka sendiri. namun setelah beberapa bulan pernikahan keduanya tampaklah tanda-tanda kehamilan. pada awalnya Hajar menyembunyikan kehamilannya pada sarah dengan memakai pakaian longgar dan mengikat perutnya akan tetapi semakin bertambah bulan semakin bertambah besar pula kandungan Hajar, melihat hal tersebut nabi ibrahim pun berfikir untuk menjauhkan hajar dari Sarah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecemburuan isteri pertama. maka pada hari yang ditentukan dibawalah Hajar berhijrah dari Palestina ke sebuah lembah yang sangat gersang sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan itulah Tanah Mekah disanalah hajar ditinggal seorang diri karena ternyata setelah sampai di Mekah nabi Ibrahimpun mendapatkan kabar kalau istrerinya Sarah juga mengandung. ketika Nabi Ibrahim bermaksud meninggalkan Hajar di lembah padang pasir yang sangat tandus itu, Hajar pun bertanya kepada sang suami mengapa engkau tega meninggalkanku sendirian di tempat tak berpenghuni ini. nabi Ibrahim pun tida menjawab bahkan tidak menoleh sedikitpun dia hanya menghentikan laju kudanya. lalu hajar bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama Nabi Ibrahim masih tetap dalam diamnya. lalu ketika hajar bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya apakah ini semua karena perintah Allah, maka nabi Ibrahimpun menoleh ke belakang dan menjawab isterinya "iya" ini semua kulakukan karena perintah Allah yakinlah Allahlah langsung yang akan menjagamu dan menjaga putra kita yakinlah suatu hari nanti saya pasti akan kembali menjenguk kalian. Dengan keyakinan teguh Nabi Ibrahim meninggalkan isterinya di tengah padang pasir tanpa pernah menoleh lagi ke belakang. sementara Hajar yang ditinggal ternyata tidak lama kemudian melahirkan seorang diri. alangkah terkejutnya ketika melihat putranya kehausan dan kelaparan, maka diapun berlari-lari bolak-balik naik ke atas bukit mencari air kegiatan tersebut dilakukannya sebanyak 7x dari bukit Shafa ke Bukit Marwah dan kembali lagi. peristiwa ini diabadikan dalam pelaksanaan ibadah haji yang dikenal dengan nama ibadah Sa'i. Hajar berlari mencari air dan terpaksa meninggalkan putranya seorang diri mencari oase kehidupan di tengah padang pasir yang tandus. Ketika kemudian Hajar kembali ke tempat ia meletakkan anaknya alangkah kaget sekaligus gembira karena bekas tumpuan kaki putranya terpancarlah mata air lalu hajar membendungnya sambil mengatakan zam-zam berkali-kali yang berarti (berkumpullah), dari kisah ini dapat dipetik beberapa hikmah diantaranya: 1. Nabi Ibrahim adalah sosok suami yang bertanggung jawab sangat menjaga persaan Sarah isterinya yang sangat santun dan halus, cenderung emosional dan pencemburu. selain itu Nabi Ibrahim juga merupakan sosok ayah yang sangat bertanggung jawab atas keluarganya berusaha menutup segala celah yang memungkinkan retaknya hubungan kekeluargaan meskipun harus dengan cara mengunsikan salah seorang isterinya yang lain. namun Ibrahim berbuat demikian selain karena perintah Allah juga nabi Ibrahim sangat mengerti dengan karakter kedua isterinya yang sangat berbeda. jika Sarah sangat emosional lembut dan pencemburu, Hajar adalah sosok perempuan tangguh, memiliki fisik yang kuat, sangat sabar dan tahan menderita. Karena itu Ibrahim memperlakukan isteri-isterinya sesuai dengan kecenderungan karakter yang dimilikinya. jadi keadilan dalam mempergauli isteri boleh saja berbeda bahkan itu harus dilakukan jika unsur kemaslahatannya lebih tinggi. jadi keadilan tidak harus dilihat pada aspek fifty-fifty namun harus dilihat pada sisi situasi dan kondisi yang memungkinkan terwujudnya kemaslahatan bersama. 2. Poligami nabi Ibrahim berhasil karena beberapa alasan diantaranya; atas izin isteri pertama, istri pertama tidak merasa disaingi dalam semua aspek, sang suami sangat adil dalam memperlakukan isteri-isterinya sesuai dengan kondisi psikologi dan emosi isteri-isterinya. 3. Isteri pertama tidak egois mempertahankan kepemilikan tunggal atas suaminya karena pertimbangan keturunan. 4. Isteri kedua tidak pernah memperlihatkan sedikitpun kemauan merebut perhatian lebih dari sang suami bahkan menjaga perasaan isteri pertama sekalipun dalam kondisi hamil dengan menyembunyikan kehamilannya pada isteri pertama. hal tersebut dilakukan agar sang madu tidak tersinggung/cemburu. 5. Isteri-isteri nabi Ibrahim adalah perempuan-perempuan yang patuh pada suami, karena itulah anak-anak mereka kelak mewariskan para nabi secara turun temurun. dari Sarah lahir Nabi Ishak yang garis keturunannya melahirkan nabi Ya'kub, nabi Yusuf dan segenap keturunan Bani israil hingga hari ini. sedangakan dari sosok Hajar lahirlah nabi Ismail yang kelak keturunnannya melahirkan nabi muhammad saw. 6. Nabi Ibrahim adalah sosok manusia yang amat dekat kepada Allah hingga rela mengorbankan apapun demi meraih keridhaan Allah swt. hingga suatu hari terlontar dalam bibirnya bahwa: "demi cintaku kepada Allah apapun akan rela saya kurbankan sekalipun anak yang sudah lama kunanti-nanti". maka setelah putra pertamanya Ismail remaja Allahpun mengujinya dengan mengingatkan janjinya untuk menyembelih anaknya melalui mimpi. setelah 3 malam berturut-turut nabi Ibraim bermimimpi dengan mimpi yang sama, maka yakinlah ia akan perlunya menunaikan janji tersebut. Akhirnya sekian lama meninggalkan isterinya Hajar di Mekah lalu Ibrahim mendatanginya dengan menyampaikan mimpinya kepada anaknya. Ismail yang mendengar kisah mimpi ayahnya tersebut diapun menerima keputusan ayahnya untuk disembelih. sepintas jika kita mengamati kisah ini terkesan nabi Ibrahim tidak mencintai keluarganya terutama putranya. namun inilah ujian nabi Ibrahim dari Allah apakah ibrahim mampu setulus hati menyembelih putra yang selama berpuluh-puluh tahun ini dinantikan kehadirannya. namun Ibrahim benar-benar mampu memenuhi janjinya di hadapan Allah dan putranya pun menyetujuinya, meskipun berat bagi Hajar namun karena perintah Allah maka iapu merelakan anak semata wayangnya disebelih oleh ayah kandungnya sendiri. pada hari yang dinantikan diantarlah Ismail ke Mina untuk disembelih, namun setelah nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah menyembelih anaknya ternyata bukan anaknya yang disembelih melainkan Allah memerintahkan kepada malaikatnya tuk mengganti Ismail dengan binatang berkaki empat sejenis domab, kambing yang biasa disebut dengan kibas. inilah awal mula disyariatkannya ibadah kurban bagi umat islam sampai hari ini. jadi poligami sangat berkorelasi erat dengan pengorbanan. seseorang yang berkomitmen akan melakukan praktik poligami harus siap berkorban. mengorbankan segala apa yang dimilikinya termasuk hal yang paling dicintainya sekalipun. poligami yang sukses adalah poligami berlandaskan syariah. islam tidak mewajibkan poligami namun boleh dilakukan dalam keadaan yang sangat emergency dengan alasan: 1. isteri sakit tidak bisa memberi keturunan 2. suami biasa adil 3. suami hiper sex dikhawatirkan akan berzina jika hanya memiliki 1 isteri saja. 4. atas izin dan persetujuan isteri pertama. 5. suami mampu mencukupi kebutuhan semua anggota keluarga dan mewujudkan keluarga sejahtera sakinah wamaddah warahmah sebagai mana tujuan perkawinan yang tercantum dalam QS. al-Ru, ayat 21.

Senin, 13 Juli 2020

Ketika Catatan Digital Lebih Kejam dari Catatan Malaikat

Kekerasan berbasis gender khususnya yang banyak terjadi terhadap perempuan menjadi perbincangan yang semakin hari semakin memanas. Hal ini didasari pada modus ataupun cara yang selalu berkembang tanpa diikuti adanya kebijakan atas perlindungan terhadap korban dan masyarakat yang dapat mengakomodir kebutuhan mereka. Komnas Perempuan dalam Catatan tahunannya mencatat bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat 14% pada tahun 2018 dengan jumlah pengaduan sebanyak 406.178 kasus. Demikian informasi dari Meila Nurul Fajriah (PBH LBH Yogyakarta)dalam salah satu tulisannya. Kondisi ini sangat memperihatinkan bagi semua kalangan karena itu tidak heran jika kemudian diusulkan ke DPR rancangan UU PKS (penghapusan kekerasan Seksual). Namun sangat disayangkan karena akhir-akhir ini negeri kita dihebokan dengan penolakan Rancangan UU PKS oleh mayoritas anggota parlemen yang duduk cantik mewakili rakyat di kantor DPR pusat di Jakarta. ada 2 kubu dalam parlemen yakni pro dan kontra. anggota yang pro melihat bahwa Indonesia sudah darurat kekerasan seksual bukan hanya pada orang dewasa namun sudah meraja lela di kalangan siswa bahkan anak. tak jarang akibat pergaulan bebas anak menjadi mengisoliasi diri dari pergaulan, murung, sakit jiwa, depresi hingga bunuh diri akibat tindak kekerasan seksual yang dialaminya. sementara itu, hukumam kepada para oknum pelaku kekerasan sexual masih dianggap ringan. karena itulah mereka yang pro berjuang agar RUU-PKS ini diterima lalu di Undangkan agar payung hukumnya jelas. adapun orang-orang yang tidak menyetujui tentu banyak hal penyebabnya terutama istilah-istilah yang digunakan di dalamnya yang menurut mereka bertentangan dengan nilai-nilai Islam bahkan cenderung liberal kebarat-baratan. perlu dipahami bahwa sebelum terjadinya tindak kekerasan sexual biasanya terlebih dahulu diawali dengan tindakan pelecehan seksual yang sangat banyak masam dan caranya, Adapun bentuk pelecehan seksual yaitu: 1. Komentar dan lelucon seksual tentang tubuh seseorang; 2. Memberikan siulan pada orang lain di depan umum; 3. Ajakan berhubungan intim atau tindakan seksual lainnya; 4. Menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain; 5. Menyentuh diri sendiri secara seksual di depan orang lain; 6. Berbicara tentang kegiatan seksual dirinya sendiri di depan orang lain; 7. Sentuhan seksual, yaitu menyentuh bagian tubuh seseorang tanpa izin; 8. Menampilkan gambar, video, cerita, atau benda seksual pada orang lain. jika salah seorang diantara kita menghadapi peilaku seperti di atas dari orang lain terutama yang memiliki kedudukan lebih tinggi dalam sebuah relasi, maka segeralah laporkan kepada pihak yang memiliki otoritas di tempat kita baik di rumah, sekolah, kampus, maupun tempat kerja agar tindakan pelecehan itu tidak terulang. jika dibiarkan apalagi sampai tergoda hingga pelaku pelecehan berhasil mengambil gambar atau vidio ketika bersama dengan kita, maka habislah korban karena akan dijadikan budak oleh pelaku bukan hanya budak sex namun tak menutup kemungkinan dijadikan objek kekerasan lainnya termasuk pemerasan dengan ancaman pelaku akan menyebarkan gambar atau vidionya, maka disinilah berlaku istilah catatan digital lebih kejam daripada catatan Malaikat. jika catatan Malaikat bisa terhapus karena taubat, maka jejak digital sangat sulit tuk terhapus melainkan hanya menyisakan penyesalan dan air mata sepanjang masa. Maka dari itu, hati-hatilah dalam pergaulan jangan sampai masuk perangkap si devil (iblis berwajah manusia)si devil ini selalu berusaha mencari korban dengan 1001 macam cara dari yang sangat lembut selembut sutera hingga sangat kasar sekasar duri. selain upaya pribadi untuk menghindari godaan pelaku maka lembaga pendidikan bisa melakukan upaya pencegahan pelecehan seksual dengan cara sebagai berikut: 1. menyiapkan layanan dalam bentuk ruang konsultasi khusus agar siswa atau mahasiswa yang terancam dapat dengan mudah melaporkan dan mendapatkan pendampingan terhadap tindakan pelecehan yang dialaminya, 2. menyiapkan Pendamping khusus yang menangani kasus pelecehan di lingkungan lembaga pendidikan terutama di perguruan tinggi. fenomena pelecehan banyak terjadi pada saat penerimaan mahasiswa baru karena masih adanya dominasi senior atas yunior. 3. sarana prasarana, pihak kampus harus menyiapkan segala bentuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam upaya melakukan pendampingan, dan advokasi atas korban pelecehan 4. anggaran, pimpinan lembaga pendidikan harus menganggarkan setiap tahun di raker pembahasan anggaran melalui tawaran program yang berpihak pada perwujudan layanan konsultasi bagi korban pelecehan. 5. Program, misalnya masukkan materi pencegahan tindak pelecehan seksual saat OPAK dan saat pembekalan KKN di Perguruan tinggi/lembaga pendidikan tinggi lainnya, workshop terkait, edukasi anti kekerasan kepada siswa/mhasiswa, kampanye anti narkoba, penandatanganan fakta integritas bagi mahasiswa baru untuk tidak melakukan pelecehan dengan menegaskan kensekuensi sanksi bagi pelaku tanpa tebang pilih termasuk jika pelakunya ASN sekalipun harus ditindak sesuai PP No. 53 Tahun 2010 tentang disiplin PNS. sanksi itu bisa juga ditentukan oleh unsur pimpinan terkait melalui musyawarah. fakta integritas ini kemudian ditempel di pojok-pojok baca agar mahasiswa merasa selalu diawasi. 6. Dosen, BEM, tenaga kependidikan lainnya beserta segenap komponen terkait bersama-sama mengawal kebijakan dan melakukan pengawasan. semoga upaya terstruktur seperti ini terwujud dan benar-benar terlaksana dengan baik sehingga segala bentuk tindak pelecehan apalagi tindak kekerasan seksual dapat diminimalisir atau dihilangkan sama sekali. wallahu a'lam Watampone, 14 Juli 2020

Minggu, 12 Juli 2020

Mengapa Perempuan Terlibat Aksi Terorisme???

Indonesia selain terkenal karena negerinya yang subur bagai permata di Nusantara terbentang dari Sabang sampai Maerauke ribuan pulau berjejer menyebabkan lahirnya beraneka ragam bahasa, adat, tradisi hingga agama yang berbeda, juga dikenal sebagai sarang teroris setidaknya sejak munculnya bom Bali yang menjadikan Imam Samudera dan kawan kawan sebagai pelaku utama dan telah dieksekusi tembak mati di Nusa Kambangan beberapa tahun yang lalu. Eksekusi mati Imam Samudra dan kawan kawan tersebut ternyata tidak mampu menyurutkan angka teroris di Indonesia saat itu bahkan bermunculan tokoh-tokoh lainnya yang tak kalah ganasnya hingga pemerintah tidak tinggal diam melalui berbagai upaya dan kerjasama hingga berhasil diringkus hingga dieksekusi aktor-aktornya sebagai upaya memutus rantai jaringan terorisme di Indonesia. sebutlah misalnya Dr. Ashari, Nurdin M. Top yang ditangkap di kota Batu Malang propinsi jawa timur hingga Santoso gembong teroris dari Poso Sulawesi Tengah. aksi terorisme bukannya berhenti bahkan bermunculan aktor-aktor baru seiring terbentuknya ISIS di Timur Tengah beberapa tahun yang lalu tepatnya di Irak dan Syiria. bahkan dalam perkembangan selanjutnya aktor-aktor teroris bukan hanya melibatkan kaum laki-laki dalam berbagai modus salah satu yang paling terkenal adalah bom bunuh diri. puncaknya ketika terjadi bom bunuh diri yang melibatkan satu keluarga termasuk sang isteri dan 2 orang putri kecilnya rela menjadi pelaku utama bom bunuh diri yang bermaksud meledakkan gereja di Surabaya beberapa waktu yang lalu, namun aksinya berhasil digagalkan oleh aparat namun terlanjut bomnya meledak dan menewaskan ibu dan anak-anaknya tersebut sementara di tempat lain suami dan dua anak laki-laki yang beranjak remaja tak luput dari aksi bom bunuh diri yang menewaskan mereka pula di pagi hari yang sama meregang meregang nyawa karena aksi terorisme.
aksi nekat perempuan dan anak-anaknya ini menandai babak baru dalam rekruitmen pelaku bom bunuh diri yang sebelumnya didominasi kaum laki-laki. dari kenyataan ini dapat dipahami bahwa saat ini perempuan tidak lagi terbatas hanya sebagai pemain di balik layar mendukung suami menyiapkan strategi dan segala macam kebutuhan suami dalam melakukan aksi teroris namun mereka sudah menjadi garda terdepan sebagai aktor utama aksi kekerasan ekstrim yang lebih dikenal dengan istilah terorisme. pertanyaannya kemudian adalah mengapa perempuan terlibat aksi terorisme? banyak faktor mengapa mereka terlibat jadi aktor utama terorisme hingga mereka berani tampil laksana devil (iblis) dan monster pembunuh tanpa merasa berdosa sekalipun bahkan mereka tersenyum dan bangga jika memilih menjadi pelaku bom bunuh diri karena dalam pemahaman mereka pelaku bom bunuh diri itu adalah para pengantin Allah yang kematiannya mati syahid dan imbalannya kekal dalam kenikmatan surga dengan segala keindahan fasilitas di dalamnya kelak di akhirat. Dalam salah satu webinar yang saya ikuti tepatnya Sabtu 11 Juli 2020 bertema mengapa perempuan menjadi teroris? menghadirkan 3 pemateri yakni Prof. Dr. Hj. Musda Mulia, Siti Darojatul Aliyah dan Adhe Bakti. dalam pemaparannya Siti Darojatul Aliyah yang dipanggil mbak Dete beliau adalah direktur SerVe- Society Against Radicalism and violent extremism beliau mengungkap beberapa alasan keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme berdasarkan kesaksian langsung para perempuan deportan yang menuju Syiriah namun tertangkap di Turky lalu kemudian dideportasi ke Indonesia negara asal mereka. Lebih lanjut beliau ungkapkan bahwa tidak ada narasi tunggal yang menyebakan perempuan  terlibat aksi teroris pasti ada pemicunya diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Perempuan tidak mau berpangku tangan melihat saudara semuslimnya berjuang di Syria melawan pemerintah thagut yang menyiksa kaum perempuan. padahal mereka hanya korban pemberitaan media yang sengaja dibuat oleh jaringan ISIS lalu disebar vidio tersebut melalui medsos untuk mengobarkan semangat berjihad umat Islam tak terkecuali perempuan pun merasa terpanggil untuk ikut berjihad ke Syiriah hingga rela meninggalkan keluarga dan cita-cita masa depan yang telah direncanakan dengan kuliah di perguruan tinggi sekalipun rela dia tinggalkan tuk ikut berjuang.
2. faktor budaya, menurut kelompok mereka praktek keagamaan NU seperti tahlilan, maulid nabi, do'a bersama adalah bid'ah (sesat) sehingga mereka sangat antipati tinggal di wilayah yang menurut mereka lingkaran bid'ah bahkan mereka tidak mau shalat di mesjid dan lebih memilih shalat di rumah. Daripada tinggal di lingkungan yang menyesakkan dadanya maka lebih memilih hijrah ke Syriah berjuang bersama-sama saudara semuslimnya mendirikan khilafah Islamiyah yang diyakininya lebih baik.
3. mereka membayangkan masa depan anak-anak dan keluarga mereka menjadi korban pemerkosaan, dimutilasi dan diambil organ-organ tubuhnya sehingga merasa Indonesia adalah negeri yang tidak aman. padahal jika diteliti lebih lanjut mereka hanyalah korban medsos yang memang sengaja dibuat oleh jaringan teroris berisi konten kekerasan agar umat islam mersa takut dan tidak percaya  pada pemerintah terutama instansi polisi dan militer karena terkesan tidak mampu mengatasi berbagai problematika yang mengintimidasi perasaan mereka. maka ujaran kebencian kepada pemerintah pun meraja lela untungnya pemerintah cepat tanggap hingga menelusuri jejak-jejak digital penebar hoax dan diberikan sanksi yang berat, makanya sekarang berkurang drastis konten hoax dalam pemberitaan di medsos akibatnya tahun 2019 hampir-hampir tidak ada lagi pemberitaan mengenai teroris hingga masuk 2020 dan digantikan berita terkait pandemi covid 19 hingga saat ini.
4. menurut mereka pemerintah tidak adil dalam hal penegakan hukum. hukum itu tajam ke bawah namun tumpul ke atas mereka mengungkap kasus nenek pencuri semangka dihukum penjara sementara para koruptor kakap tidak tersentuh hukum. padahal jika kita amati betapa banyak pelaku korupsi telah masuk buih termasuk para pejabat teras sekalipun namun pemberitaan yang terus menerus memenuhi grup WAnya adalah konten anti pemerintah hingga tumbuh subur kebencian dan ketidakpercayaan kepada aparat hukum dan aparat pemerintah lainnya. Islam mengajarkan untuk tabayun (cek and ricek) berita itu jangan langsung ditelan mentah-mentah.
5. faktor pertemanan tak jarang kasus keterlibatan perempuan dalam aksi teroris karena faktor teman yang kemudian menjadi pacar yang kebetulan perekrut itu gagah lalu diiming-imingilah perempuan tersebut dijanji akan dinikahi dan hidup tentram di bawah naungan negara khilafah yang menjamin keadilan dan kesejahteraan warganya. Nyatanya khilafah Islamiyah yang dijanjikan itu tidak pernah terwujud yang ada hanyalah pembantaian umat manusia anti pemerintah Bashar As'ad yang sah secara konstitusi. kedamaian yang dijanjikan tak ubahnya hayalan belaka.
6. Semangat mujahid sejati terpatri pada jiwa suami-suami mereka sehingga mengajak isteri-isterinya tuk berjuang bersama menegakkan negara khilafah dan Syiria yang kebetulan jadi lahan empuk untuk mewujudkan tujuannya itu karena api perjuangan telah dikobarkan disana. jika diteliti lebih lanjut perjuangan mereka dilandasi kebencian atas Syi'ah yang menjadikan ajaran Islam dengan corak mazhab ini menjadi mazhab resmi negara di Syiria di bawah pemerintahan Bashar As'ad yang beraliran Islam Syi'ah.
7. jargon kiyamat sudah dekat juga mempengaruhi mereka untuk berhijrah ke Syiria karena mereka meyakini bahwa kiyamat akan segera datang karena itu mereka tidak mau hidupnya sia-sia. selain itu mereka didoktrin bahwa neraka tempatnya bagi mereka yang mati namun tidak berada di bawa kekuasaaan negara khilafah yang menurutnya satu-satunya sistem negara yang diridhai Allah swt. padahal jika ditinjau dari aspek sejarahnya nabi Muhammad saw tidak pernah menyebut pemerintahannya sebagai khilafah Islamiyah, bahkan pemerintahan setelahnya hanya pemimpin diberi gelar khalifah bahkan Umar bin Khattab (khalifah kedua) menolak gelar itu dan memilih istilah Amir hingga kemudian berubah lagi gelar kepala pemerintahan itu menjadi khalifah di zaman dinasti Umayyah dan Abbasiyah dan Turky Usmani meskipun dalam sistem negaranya menganut sistem almamlakah atau kerajaan. saat ini gelar pemimpin negara Islam adalah Raja seperti di kerajaan Arab Saudi dan Malaysia sementara di Uni Emirat Arab gelar raja adalah Emir sedangkan sistemnya kerajaan. sistem ini juga bermacam -macam tergantung kesepakatan mayoritas misalnya di Indonesia dan Mesir sistemnya Republik kepala pemerintahannya disebut presiden, di Turky Sistemnya disebut Republik sekuler sedangkan Iran Republik Islam sama-sama mana pemerintahnya presiden. pakistan, afganistan dan India disebut Republik pemerintahan tertingginya di beri gelar perdana menteri. jadi silahkan berbada sistem dan gelar pemerintahnya yang penting prinsip-prinsip dasar ajaran Islam dijalankan seperti; keadilan, kejujuran, kesetaraan, musyawarah (demokrasi), toleransi, moderat tetap dijunjung tinggi.
8. motivasi dendam akibat korban terorisme yang terjadi di Poso karena melihat anggota keluarganya dikejar-kejar oleh aparat dan disiksa. mereka memahami bahwa menjadi teroris, anti pemerintah, melakukan ujaran kebencian adalah sebuah kebenaran dan harus terus dikobarkan sebagai bentuk perlawanan menghadapi pemerintahan thagut. menurut mereka hanyalah daulah khilafah Islamiyah yang benar menurut syariat Islam sehingga Indonesia adalah negeri yang dilaknat Allah hingga berdirinya khilafah Islamiyah menurut versi mereka. namun perjuangan mewujudkan cita-cita mereka tak kunjung terwujud, maka mereka hijrah ke Syiria untuk mewujudkannya sekaligus sebagai bentuk solidaritas Islam.
sampai saat ini belum ada kasus perempuan terlibat sendiri sebagai pelaku teroris melainkan mereka ikut kelompok melalui perkawinan, pertemanan, medsos, kelompok pengajian, kekeluargaan, pacaran, sehingga dapat dipahami bahwa sebenarnya perempuan hanyalah aktor pelaku bukan aktor penentu karena itu walaupun perempuan sebagai aktor, namun sebenarnya mereka adalah korban sehingga perlu didampingi baik yang sdah terpapar maupun yang belum terutama keluarga pelaku. tak jarang mereka kena stigma dan dibully sehingga kematian mendadak akibat syok sering terjadi pada anggota keluarga yang terlibat aksi teroris. kita harus memahami gerakan mereka dalam kacamata mereka tidak dalam kacamata kita agar kita dapat memberikan perlindungan dan pendampingan agar kembali ke jalan yang benar. mereka memilih jadi teroris dengan niat yang baik meskipun langkah yang dipilihnya adalah langkah yang keliru. menurut mereka menjadi teroris itu adalah makam mulia/kedudukan terhormat di mata Allah karena itu wajar jika harus berkorban, jangankan keluarga nyawapun akan dipertaruhkan demi kedudukan terhormat di hadapan Allah swt. karena itu jangan heran kasus bom yang melibatkan satu keluarga di Surabaya itu terjadi. tugas kita adalah mendampingi dan menyadarkan mereka akan esensi ajaran agama yang benar bahwa membunuh satu orang sama halnya membunuh semua manusia, sebaliknya menyelamatkan satu manusia sama halnya menyelamatkan manusia seluruhnya (QS. al-Maidah/5 ayat 32) teruslah tebar kedamaian dan memutus rantai pesan anti toleransi, anti demokrasi, anti kemanusiaan yang dapat memicu fitnah diantara kita. pesan seperti itu jangan dishare cukup berhenti di tangan kita. teruslah melakukan pencerahan dimanapun dan kapan pun kita berada agar bibit terorisme tidak kuncup lagi. wallahu a'lam Watampone, 11 Juni 2020


Minggu, 05 Juli 2020

Tantangan Orangtua dalam Pengasuhan Anak di Era Digital


Tokoh utama dalam keluarga adalah orang tua terutama ibu. Ibu sebagai manager pola asuh pertama dan utama dan menjadi panutan yang setiap saat dilihat dan ditiru oleh anak-anak. Oleh karena itu, pola pengasuhan anak merupakan serangkaian kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua khususnya ibu. Jika pengasuhan anak belum bisa dipenuhi secara baik dan benar, maka kerap kali akan memunculkan masalah dan konflik, baik di dalam diri anak itu sendiri maupun antara anak dengan orangtua, juga terhadap lingkungan. Oleh karena itu, orang tua khususnya ibu harus mampu membina karakter anak sejak dini dalam lingkungan keluarga melalui bimbingan dan konseling yang tepat dan teratur. Menanamkan karakter pada anak sejak dini adalah sebuah keniscayaan karena karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”. 

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama pada anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah yang pertama dikenal dan tempat merima pendidikan. Bimbingan, perhatian, dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak. 

Memperhatikan perkembangan teknologi sekarang ini, penggunaan perangkat digital bagi kehidupan anak merupakan fenomena yang tidak dapat ditolak bahkan telah berpengaruh terhadap kehidupan anak. Pengawasan terhadap anak sangat penting untuk diwujudkan karena banyak informasi yang masuk dan anak harus bisa memilih informasi yang cocok dan sesuai tahap perkembangannya. Dalam proses pendidikan era digital peran orang tua harus nyata dalam mencermati dan mengetahui kemampuan anak untuk menyikapi dan memandang dirinya secara positif agar penggunaan perangkat digital dapat digunakan oleh anak dengan baik. Salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam pendidikan keluarga adalah pada saat anak menggunakan perangkat digital. Perangkat-perangkat digital itu, antara lain TV, komputer, smart phone, komputer tablet dan lain-lain. karena dapat mengakibatkan dampak yang buruk bagi anak walaupun dampak baiknya juga tak boleh dinafikan.

Melihat dari perkembangan era digital yang semakin berkembang di dunia saat ini, secara otomatis tentunya berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak. Olehnya itu, keluarga merupakan benteng utama dalam memberikan pendidikan yang baik dengan mengantisipasi efek buruk yang ditimbulkan dari perkembangan era digital tersebut. Orang tua juga tidak boleh menutup diri dari perkembangan era digital karena di balik perkembangan era digital tersebut ada banyak hal positif yang dapat diraih, pada titik inilah peran orang tua dalam mendidik anak dalam era digital sangat dibutuhkan guna memilah hal positif dan negatif dari perkembangan teknologi tersebut.
Era digital sarat dengan berbagai tantangan khususnya dalam pengasuhan anak, diantara tantangan orangtua dalam pengasuhan anak di era digital adalah sebagai berikut:
1. akses internet yang semakin merajalela, sementara internet itu tidak hanya membawa pesan-pesan positif namun juga mengantarkan pesan negatif hingga ke dalam wilayah privasi anak. Karena itu orangtua harus mampu melakukan pengawasan terhadap penggunaan smar phone pada anak. pengawasan itu dapat dilakukan dengan cara berkomitmen dengan anak atas konten-konten yang dapat diakses, waktu beinteraksi dengan gadget perlu dibatasi misalnya maksimal 2 jam dalam sehari, serta penggunaan HP itu tidak boleh di dalam kamar harus ditempat yang dapat dengan mudah terlihat agar mudah dikontrol apa saja yang dilihat anak di HP tsb. bahkan jika perlu orangtua mendampingi dan menjelaskan kepada  anak apa yang dilihatnya termasuk menjelaskan tentang dampak positif dan negatif apa yang ditontonnya.
2. anak cenderung ingin bebas berinternet, karena itu orang tua harus benar-benar berkomitmen Bersama dengan anak sebelum diberikan HP atau laptop bahwa konten yang boleh dilihat hanya yang mendidik menunjang tugas-tugas pembelajaran sekolah, dan konten-konten positif lainnya yang berfungsi untuk penguatan Pendidikan akarakter pada diri anak.
3. Anak lebih menguasai internet daripada orangtua, fenomena ini melanda dunia orangtua secara umum terutama masyarakat pedesaan yang lahir di tahun 70an dan sebelumnya. Mereka  masih sangat terbatas yang mampu mengakses internet secara bebas. hal tersebut disebabkan oleh beberapa factor seperti; tidak adanya smart phone, kurangnya akses pengetahuan terkait internet, belum memahami dampak positif internet karena masih terlena dan menikmati pola kehidupan lama yang serba nyata dengan berinteraksi langsung dalam menjalin hubungan sosial.
4. munculnya berbagai konten buatan pengguna medsos yang tidak mendidik
konten buatan pengguna medsos yang tidak mendidik dapat beraneka ragam bentuknya yang terkadang memuat konten pornografi, kekerasan, sex, cyber bully, humor berlebihan, dll. baik dalam bentuk foto, tulisan, gambar maupun video lalu diunggah ke akun medsos dan you tube pengguna yang dapat mempengaruhi mental orang lain untuk menirunya.
5. bahaya mengintai anak melalui kejahatan cyber
sebagai akibat bebasnya pengguna medsos mengunggah macam-macam konten di akun medsosnya lalu dilihat oleh anak, maka secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan anak. Anak adalah tipologi manusia peniru ulung karena itu orang tua harus benar-benar hadir dalam mengawal tumbuh kembang anak dan berusaha menjauhkan anak dari berbagai kejahatan termasuk kejahatan cyber. lalu apa yang harus dilakukan orangtua dalam menghadapi tantangan pengasuhan Anak di Era Digital? jawabannya dapat saya share disini sebagai hasil webinar yang saya ikuti hari ini yang dilaksanakan oleh pengurus Fatayat NU Wilayah propinsi Sulawesi Selatan dengan tema " Lindungi Anak dan Remaja dari Kejahatan Syber Medsos" menghadirkan 3 pemateri yakni; Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, SS, M.Si sekjen PP Fatayat NU, Syamsul Rijal Adhan, S.Ag, M.Si Ketua PW LTNU sulsel sekaligus peneliti Balitbang Makassar serta Sunarti Sain pimpinan Radar Selatan plus aktivis perempuan dan media. dalam webinar ini terungkap bahwa peran orang tua sangat penting untuk menyelamatkan anak dari kejahatan cyber dengan 2 cara umum dan khusus. cara umum dapat ditempuh sebagai berikut:
1. membangun rapport dan komunikasi yang baik dan efektif dengan anak. hal tersebut berupa membangun kepercayaan anak, membiasakan berkomunikasi dioalogis, lebih banyak mendengar anak, tidak menghakimi, memberi pemahaman dengan cara logis, membangun komitnen dan kesepakatan serta memberi apresiasi atau penghargaan atas prestasi anak.
2. memberi teladan yang baik, Keteladanan merupakan suatu metode pendidikan yang paling efektif dalam membina ahlak anak. Memberikan contoh yang baik kepada anak dapat memiliki kesan yang baik bagi anak. Secara psikologi, semua gerak gerik orangtua, cara berkomunikasi, penggunaan isyarat dan bahasa tubuh orangtua cenderung ingin diikuti oleh anak. bahkan dimata anak orang tuanya adalah idolanya karena itu anak akan sangat kecewa jika memiliki orang tua yang tidak bisa menjadi teladan yang baik bagi anak. 
3. membangun karakter positif pada anak seperti memiliki karakterpeduli baik peduli sosial maupun peduli lingkungan. orang tua harus membiasakan akan melakukan aktivitas yang berisi konten kepedualian dengan melibatkan anak dalam berbagi zakat, sedekah dan infak, menyantuni anak Yatim, menyantuni fakir miskin dan orang-orang yang berkebutuhan khusus. agar anak tidak suka membully seseorang meskipun memiliki keterbatasan fisik justeru mereka seharusnya dihormati dikasihi dan dicintai. kepedulian ini tidak hanya terbatas kepada sesame manusia melainkan harus diperluas rasa peduli itu mencakup kepada seluruh makhluk Allah swt.
4. melatih disiplin positif kepada anak. dalam mendidik anak dibutuhkan konsistensi semua pihak suamiisteri harus sepakat terhadap sebuah aturan dan disosialisasikan kepada anak, dijalankan Bersama, menetapkan sanksi dengan ketat tidak boleh salah satu dari orang tua keras sementara yang lain longgar dalam menerapkan aturan karena hal tersebut akan membuatkan celah pada anak untuk tidak disiplin dan melakukan pelanggaran tanpa merasa bersalah.
5.menjadi pengasuh kreatif. dalam hal ini orang tua dapat menyediakan variasi dan alternatif bermain anak (indoor dan outdoor). permainan tradisional dapat menjadi alternatif dalam menumbuh kembangkan karakter anak sekaligus dapat menghindarkan anak dari kejahatan cyber karena secara otomatis anak yang aktif melakukan permainan tradisional akan terkurangi waktu interaksinya dengan HP yang merupakan sumber utama adanya kejahatan cyber. Selain itu orang tua dituntut harus mampu memfasilitasi berkembangnya bakat dan mint anak baik itu di bidang seni, olahraga maupun akademik anak. 
cara khususnya adalah dengan membangun kesepakatan dalam penggunaan internet sebagai berikut:
1. atur waktu penggunaan
2. sepakati lokasi penggunaan
3. selektif dalam melihat konten
4. lakukan control atau pendampingan
5. menjadi teman anak dalam dunia cyber
orang tua hendaklah mengenali perilaku adiksi (ketergantungan) terhadap gadget, agar mudah melakukan upaya penyelamatan pada anak:
1. bermain di atas 6 jam sehari
2. frustasi, marah, tantrum jika dilarang
3. enggan bersosialisasi
4. sulit konsentrasi
5. rutinitas terganggu
6. bolos sekolah
7. tidak punya eman
8. perilaku agresif
strategi yang dapat ditempuh orang tua dalam mengantisipasi anak dari perilaku adiksi (ketergantungan) gadget adalah sebagai berikut:
1. kurangi frekuensi bermain secara bertahap
2. ajak bersosialisasi dengan teman sebaya
3. ajak anak beraktivitas/bermain positif dan menarik lainnya
4. batasi anak berinteraksi dengan gadget dengan terlebih dahulu orangtua memberi contoh membatasi diri terlebih dahulu. usahakan tidak memegang HP dihadapa anak kecuali dalam keadaan terpaksa dan anak tahu bahwa itu terkait kelancaran tugas profesi orang tua sehingga dengan terpaksa memegang HP.
5. beri reward yang bukan dalam bentuk memberi tambahan waktu dalam bermain gadget
6. kenalkan lingkungan yang menyenangkan misalnya dengan mengajak anak refreshing atau rekreasi ke pantai, ke taman, ke gunung, dan ke tempat-tempat indah indah lainnya atau mengajaknya berolahraga balap sepeda menjelajah hingga ke pelosok yang memiliki keindahan alam yang menarik sambal berburu kuliner yang sehat dan terjangkau.
7. jadilah teladan bagi anak dalam berbagai keadaan
wallahu a'lam


Pengasuhan Anak Berkualitas sebagai Solusi Fenomena Kecanduan Gadget Masa Pandemi Covid 19


Kemajuan ilmu pengetahuan dan Teknologi menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat spektakuler dalam kehidupan manusia di berbagai aspek kehidupannya. perubahan itu misalnya terlihat dalam dunia Pendidikan yang sebelumnya pembelajaran hanya dapat berlangsung di dalam ruang-ruang kelas yang mengharuskan pertemuan langsung melalui tatap muka antara pendidik dan peserta didik, namun sekarang proses pembelajaran itu dapat berlangsung melalui daring (dalam jaringan) tanpa bertemu di dunia nyata cukup di dunia maya terlebih lagi di masa pandemic covid 19 yang menghendaki kerja, belajar dan ibadah semua harus dilaksanakan di rumah. begitupala pada aspek budaya kini mengalami pergeseran kalau sebelumnya pertemuan dilakukan dengan cara kopi darat kumpul di kafe dan warung-warung makan sekarang pertemuan dalam membahas apapun itu dapat dilakukan melalui medsos seperti; WA, face book, Instagram, skype, line, zoom, google meet, telegram, dsb. puncaknya pada aspek sosial yang sebelumnya segala sesuatu dilakukan di dunia nyata seperti belanja segala kebutuhan sekarang semua bisa dilakukan di rumah dengan belanja on line dari barang-barang mewah yang hanya bisa dijumpai di pasar modern hingga kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional. dengan mudah transaksi tersebut berlangsung hanya dengan memesan lewat jasa pengantaran on line. 
Konsekuensi dari perubahan gaya hidup dari ofline ke online menyebabkan tingkat kebutuhan seseorang akan gadget semakin meningkat. bukan hanya orang tua yang membutuhkan gadget, anakpun membutuhkannya terutama dalam mengakses ilmu pengetahuan dan untuk keberlangsungan peroses Belajar Mengajar on line di masa pandemi covid 19. akan tetapi kebiasaan anak berinteraksi dengan gadget menimbulkan dampak kecanduan terlebih lagi jika anak terpengaruh dengan vitur-vitur lain seperti game on line. kecanduan akan gadget sangat sulit dihindari terutama di masa pandemic covid mengingat adanya protocol kesehatan yang harus dipenuhi demi keselamatan bersama agar terhindari dari paparan virus corona yang sangat berbahaya. pemberlakuan sosial distancing menyebabkan anak terkurung di rumah sulit berinteraksi dengan teman-temannya sehingga secara tidak langsung menimbulkan intensitas penggunaan gadget meningkat. sebagai produk teknologi canggih, gadget tidak hanya membawa dampak positif namun juga dampak negative karena itu orang tua harus bijak dalam memberikan kesempatan kepada anak menggunakan gadget (Hand Phone). diantara dampak positif medsos adalah; searching, learning, collecting, communication, dan creating. sedangkan dampak buruknya adalah; kecanduan game on line negative yang mengandung kekerasan dan sex, grooming, sexting, pornografi, cyber bully, hoaks, fake news, sekstortion, kekerasan seksual online. 
 Untuk menyelamatkan anak dari dampak negatif dan kecanduan gadget, maka Orangtua harus menyadari akan kewajibannya memberikan perlindungan kepada anak berupa; hak tumbuh kembang, hak berpartisipasi, hak terbebas dari segala bentuk diskriminasi, serta hak untuk memperoleh penghidupan yang layak. Interaksi dan komunikasi orangtua dengan anak merupakan faktor yang paling penting dalam melakukan upaya perlindungan tersebut sekaligus mengajarkan anak mengenai segala hal yang perlu dipelajari, dikerjakan dan dihindari. Sebaik apapun Pendidikan yang diberikan di luar rumah tidak akan efektif apabila rumah yang merupakan tempat belajar pertama dan Utama tidak memberikan ruang komunikasi dan pengasuhan yang berkualitas pada anak. 
Peran orangtua sebagai pendidik pertama dan utama tidak dapat dihindarkan dan digantikan oleh lembaga apapun karena ini erat kaitannya dengan pola asuh yang dianut. Pola asuh yang ideal menjadikan seorang anak akan lebih mudah diarahkan untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik di dalam maupun di luar rumah. Secara umum pola asuh dalam berbagai literatur dikenal beberapa pola pengasuhan terhadap anak diantaranya adalah; pola asuh otoriter, demokratis dan permisif. 
Pola asuh otoriter dengan karakteristik kekuasaan orang tua terlalu dominan dan hak pribadi anak tidak diakui, kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat dan orangtua akan menghukum anak ketika melakukan kesalahan.
Pola asuh demokratis dengan karakteristik adanya kerjasama antara orangtua dan anak, seorang anak diberikan hak untuk memilih, selalu ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua sehingga anak dan orangtua tidak kaku. 
Pola asuh permisif menitikberatkan pada adanya unsur pembiaran sehingga dominasi anak dalam menentukan arah hidupnya. hal tersebut disebabkan orangtua memberikan kebebasan penuh tidak ada bimbingan dan pengarahan serta kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. Pola asuh dengan model ini tentu saja akan merusak kepribadian anak. Karena itu untuk memperoleh hasil pendididkan yang berkualitas pada anak sedapat mungkin dalam pengasuhan anak orangtua menghindari pola pengasuhan terlalu otoriter dan permisif. pengasuhan otoriter akan mengekang anak sehingga anak menjadi tidak bebas berkreasi, takut berbuat, minder (kurang percaya diri), hingga depresi. sedangkan pola asuh permisisf akan menagantarkan anak berperilaku bebas sehingga lebih dekat kepada hal-hal negatif seperti; pergaulan bebas, kehidupan malam yang merusak, kecanduan narkoba dan zat adiktif lainnya, pembunuhan dan segala bentuk kejahatan lainnya yang sangat membahayakan masa depan dan karier anak. dari 3 pola asuh ini, sebaiknya orangtua menekankan pola pengasuhan demoktis karena pengasuhan model ini membuka ruang seluas-luasnya pada anak untuk terbuka kepada orangtuanya dan mengkomunikasikan segala hal yang dilihat, didengar, dirasakan dan diinginkan oleh anak. Sebaliknya orangtua juga dapat melakukan hal yang sama pada anak sehingga lebih mudah berinteraksi dari hati ke hati, memberi nasehat, mencari solusi dari setiap problematika yang dihadapi anak termasuk kecanduan akan penggunaan gadget di masa pandemic covid 19. bahkan kecanduan tersebut dapat berlangsung hingga masa New Normal jika tidak diantisipasi.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa pola pengasuhan demokratis akan melahirkan pola asuh berkualitas dan dapat mengantisipasi berbagai problematika anak, namun secara khusus terkait solusi fenomena kecanduan gadget pada anak di Masa Pandemi covid 19, maka orangtua dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. melibatkan anak dalam urusan domestik tanpa membedakan gendernya  
2. mengajak anak berkebun walaupun hanya di dekat rumah jika lahan luar tidak punya, tanaman tersebut bias berupa memperkuat ketahanan pangan maupun kebutuhan akan obat-obatan.
3. memelihara taman bunga
4. biasakan berkomunikasi dengan anak terkait apaun seperti menanyakan pelajarannya yang terlaksana melalui daring, menanyakan teman-temanya termsuk hobbinya,
5. ikut sertakan anak dalam aktivitas berolah raga serta memfasiilitasinya seperti bersepada Bersama anggota keluarga, dll.
demikianlah upaya-upaya strategis yang dapat dilakukan oleh orangtua sebagai solusi fenomena kecanduan Gadget Masa Pandemi covid 19.
Wallahu a'lam


7 PERBEDAAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM

Mengawali pertemuan ini marilah kita bersama sama mengumandangkan lafaz pujian kepada Allah Azza wajallah sang pemilik segala kenikmatan den...