Kemajuan ilmu pengetahuan dan Teknologi menyebabkan terjadinya perubahan yang sangat spektakuler dalam kehidupan manusia di berbagai aspek kehidupannya. perubahan itu misalnya terlihat dalam dunia Pendidikan yang sebelumnya pembelajaran hanya dapat berlangsung di dalam ruang-ruang kelas yang mengharuskan pertemuan langsung melalui tatap muka antara pendidik dan peserta didik, namun sekarang proses pembelajaran itu dapat berlangsung melalui daring (dalam jaringan) tanpa bertemu di dunia nyata cukup di dunia maya terlebih lagi di masa pandemic covid 19 yang menghendaki kerja, belajar dan ibadah semua harus dilaksanakan di rumah. begitupala pada aspek budaya kini mengalami pergeseran kalau sebelumnya pertemuan dilakukan dengan cara kopi darat kumpul di kafe dan warung-warung makan sekarang pertemuan dalam membahas apapun itu dapat dilakukan melalui medsos seperti; WA, face book, Instagram, skype, line, zoom, google meet, telegram, dsb. puncaknya pada aspek sosial yang sebelumnya segala sesuatu dilakukan di dunia nyata seperti belanja segala kebutuhan sekarang semua bisa dilakukan di rumah dengan belanja on line dari barang-barang mewah yang hanya bisa dijumpai di pasar modern hingga kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional. dengan mudah transaksi tersebut berlangsung hanya dengan memesan lewat jasa pengantaran on line.
Konsekuensi dari perubahan gaya hidup dari ofline ke online menyebabkan tingkat kebutuhan seseorang akan gadget semakin meningkat. bukan hanya orang tua yang membutuhkan gadget, anakpun membutuhkannya terutama dalam mengakses ilmu pengetahuan dan untuk keberlangsungan peroses Belajar Mengajar on line di masa pandemi covid 19. akan tetapi kebiasaan anak berinteraksi dengan gadget menimbulkan dampak kecanduan terlebih lagi jika anak terpengaruh dengan vitur-vitur lain seperti game on line. kecanduan akan gadget sangat sulit dihindari terutama di masa pandemic covid mengingat adanya protocol kesehatan yang harus dipenuhi demi keselamatan bersama agar terhindari dari paparan virus corona yang sangat berbahaya. pemberlakuan sosial distancing menyebabkan anak terkurung di rumah sulit berinteraksi dengan teman-temannya sehingga secara tidak langsung menimbulkan intensitas penggunaan gadget meningkat. sebagai produk teknologi canggih, gadget tidak hanya membawa dampak positif namun juga dampak negative karena itu orang tua harus bijak dalam memberikan kesempatan kepada anak menggunakan gadget (Hand Phone). diantara dampak positif medsos adalah; searching, learning, collecting, communication, dan creating. sedangkan dampak buruknya adalah; kecanduan game on line negative yang mengandung kekerasan dan sex, grooming, sexting, pornografi, cyber bully, hoaks, fake news, sekstortion, kekerasan seksual online.
Untuk menyelamatkan anak dari dampak negatif dan kecanduan gadget, maka Orangtua harus menyadari akan kewajibannya memberikan perlindungan kepada anak berupa; hak tumbuh kembang, hak berpartisipasi, hak terbebas dari segala bentuk diskriminasi, serta hak untuk memperoleh penghidupan yang layak. Interaksi dan komunikasi orangtua dengan anak merupakan faktor yang
paling penting dalam melakukan upaya perlindungan tersebut sekaligus mengajarkan anak mengenai segala hal yang perlu dipelajari,
dikerjakan dan dihindari. Sebaik apapun Pendidikan yang diberikan di luar
rumah tidak akan efektif apabila rumah yang merupakan tempat belajar pertama dan Utama tidak memberikan ruang komunikasi dan pengasuhan yang berkualitas pada anak.
Peran orangtua sebagai pendidik pertama dan utama tidak dapat dihindarkan
dan digantikan oleh lembaga apapun karena ini erat kaitannya dengan pola asuh yang dianut. Pola asuh yang ideal menjadikan seorang anak akan lebih mudah diarahkan
untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik di dalam maupun di luar rumah. Secara umum pola
asuh dalam berbagai literatur dikenal beberapa pola pengasuhan terhadap anak diantaranya adalah; pola asuh otoriter,
demokratis dan permisif.
Pola asuh otoriter dengan karakteristik kekuasaan orang tua terlalu
dominan dan hak pribadi anak tidak diakui, kontrol terhadap tingkah laku anak
sangat ketat dan orangtua akan menghukum anak ketika melakukan kesalahan.
Pola asuh demokratis dengan karakteristik adanya kerjasama antara orangtua
dan anak, seorang anak diberikan hak untuk memilih, selalu ada bimbingan dan pengarahan
dari orangtua sehingga anak dan orangtua tidak kaku.
Pola asuh permisif menitikberatkan pada adanya unsur pembiaran sehingga dominasi anak dalam menentukan arah hidupnya. hal tersebut disebabkan orangtua memberikan kebebasan penuh tidak ada bimbingan dan
pengarahan serta kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang. Pola asuh dengan model ini tentu saja akan merusak kepribadian anak. Karena itu untuk memperoleh hasil pendididkan yang berkualitas pada anak sedapat mungkin dalam pengasuhan anak orangtua menghindari pola pengasuhan terlalu otoriter dan permisif. pengasuhan otoriter akan mengekang anak sehingga anak menjadi tidak bebas berkreasi, takut berbuat, minder (kurang percaya diri), hingga depresi. sedangkan pola asuh permisisf akan menagantarkan anak berperilaku bebas sehingga lebih dekat kepada hal-hal negatif seperti; pergaulan bebas, kehidupan malam yang merusak, kecanduan narkoba dan zat adiktif lainnya, pembunuhan dan segala bentuk kejahatan lainnya yang sangat membahayakan masa depan dan karier anak. dari 3 pola asuh ini, sebaiknya orangtua menekankan pola pengasuhan demoktis karena pengasuhan model ini membuka ruang seluas-luasnya pada anak untuk terbuka kepada orangtuanya dan mengkomunikasikan segala hal yang dilihat, didengar, dirasakan dan diinginkan oleh anak. Sebaliknya orangtua juga dapat melakukan hal yang sama pada anak sehingga lebih mudah berinteraksi dari hati ke hati, memberi nasehat, mencari solusi dari setiap problematika yang dihadapi anak termasuk kecanduan akan penggunaan gadget di masa pandemic covid 19. bahkan kecanduan tersebut dapat berlangsung hingga masa New Normal jika tidak diantisipasi.
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa pola pengasuhan demokratis akan melahirkan pola asuh berkualitas dan dapat mengantisipasi berbagai problematika anak, namun secara khusus terkait solusi fenomena kecanduan gadget pada anak di Masa Pandemi covid 19, maka orangtua dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. melibatkan anak dalam urusan domestik tanpa membedakan gendernya
2. mengajak anak berkebun walaupun hanya di dekat rumah jika lahan luar tidak punya, tanaman tersebut bias berupa memperkuat ketahanan pangan maupun kebutuhan akan obat-obatan.
3. memelihara taman bunga
4. biasakan berkomunikasi dengan anak terkait apaun seperti menanyakan pelajarannya yang terlaksana melalui daring, menanyakan teman-temanya termsuk hobbinya,
5. ikut sertakan anak dalam aktivitas berolah raga serta memfasiilitasinya seperti bersepada Bersama anggota keluarga, dll.
demikianlah upaya-upaya strategis yang dapat dilakukan oleh orangtua sebagai solusi fenomena kecanduan Gadget Masa Pandemi covid 19.
Wallahu a'lam
Mantap ibu Doktor
BalasHapusLuar biasa bu doktor
BalasHapusKeren Bu Doktor
BalasHapusKeren Bu Doktor
BalasHapus