Minggu, 05 Juli 2020

Tantangan Orangtua dalam Pengasuhan Anak di Era Digital


Tokoh utama dalam keluarga adalah orang tua terutama ibu. Ibu sebagai manager pola asuh pertama dan utama dan menjadi panutan yang setiap saat dilihat dan ditiru oleh anak-anak. Oleh karena itu, pola pengasuhan anak merupakan serangkaian kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua khususnya ibu. Jika pengasuhan anak belum bisa dipenuhi secara baik dan benar, maka kerap kali akan memunculkan masalah dan konflik, baik di dalam diri anak itu sendiri maupun antara anak dengan orangtua, juga terhadap lingkungan. Oleh karena itu, orang tua khususnya ibu harus mampu membina karakter anak sejak dini dalam lingkungan keluarga melalui bimbingan dan konseling yang tepat dan teratur. Menanamkan karakter pada anak sejak dini adalah sebuah keniscayaan karena karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”. 

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama pada anak. Hal ini disebabkan, karena kedua orang tuanyalah yang pertama dikenal dan tempat merima pendidikan. Bimbingan, perhatian, dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak. 

Memperhatikan perkembangan teknologi sekarang ini, penggunaan perangkat digital bagi kehidupan anak merupakan fenomena yang tidak dapat ditolak bahkan telah berpengaruh terhadap kehidupan anak. Pengawasan terhadap anak sangat penting untuk diwujudkan karena banyak informasi yang masuk dan anak harus bisa memilih informasi yang cocok dan sesuai tahap perkembangannya. Dalam proses pendidikan era digital peran orang tua harus nyata dalam mencermati dan mengetahui kemampuan anak untuk menyikapi dan memandang dirinya secara positif agar penggunaan perangkat digital dapat digunakan oleh anak dengan baik. Salah satu aspek yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam pendidikan keluarga adalah pada saat anak menggunakan perangkat digital. Perangkat-perangkat digital itu, antara lain TV, komputer, smart phone, komputer tablet dan lain-lain. karena dapat mengakibatkan dampak yang buruk bagi anak walaupun dampak baiknya juga tak boleh dinafikan.

Melihat dari perkembangan era digital yang semakin berkembang di dunia saat ini, secara otomatis tentunya berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak. Olehnya itu, keluarga merupakan benteng utama dalam memberikan pendidikan yang baik dengan mengantisipasi efek buruk yang ditimbulkan dari perkembangan era digital tersebut. Orang tua juga tidak boleh menutup diri dari perkembangan era digital karena di balik perkembangan era digital tersebut ada banyak hal positif yang dapat diraih, pada titik inilah peran orang tua dalam mendidik anak dalam era digital sangat dibutuhkan guna memilah hal positif dan negatif dari perkembangan teknologi tersebut.
Era digital sarat dengan berbagai tantangan khususnya dalam pengasuhan anak, diantara tantangan orangtua dalam pengasuhan anak di era digital adalah sebagai berikut:
1. akses internet yang semakin merajalela, sementara internet itu tidak hanya membawa pesan-pesan positif namun juga mengantarkan pesan negatif hingga ke dalam wilayah privasi anak. Karena itu orangtua harus mampu melakukan pengawasan terhadap penggunaan smar phone pada anak. pengawasan itu dapat dilakukan dengan cara berkomitmen dengan anak atas konten-konten yang dapat diakses, waktu beinteraksi dengan gadget perlu dibatasi misalnya maksimal 2 jam dalam sehari, serta penggunaan HP itu tidak boleh di dalam kamar harus ditempat yang dapat dengan mudah terlihat agar mudah dikontrol apa saja yang dilihat anak di HP tsb. bahkan jika perlu orangtua mendampingi dan menjelaskan kepada  anak apa yang dilihatnya termasuk menjelaskan tentang dampak positif dan negatif apa yang ditontonnya.
2. anak cenderung ingin bebas berinternet, karena itu orang tua harus benar-benar berkomitmen Bersama dengan anak sebelum diberikan HP atau laptop bahwa konten yang boleh dilihat hanya yang mendidik menunjang tugas-tugas pembelajaran sekolah, dan konten-konten positif lainnya yang berfungsi untuk penguatan Pendidikan akarakter pada diri anak.
3. Anak lebih menguasai internet daripada orangtua, fenomena ini melanda dunia orangtua secara umum terutama masyarakat pedesaan yang lahir di tahun 70an dan sebelumnya. Mereka  masih sangat terbatas yang mampu mengakses internet secara bebas. hal tersebut disebabkan oleh beberapa factor seperti; tidak adanya smart phone, kurangnya akses pengetahuan terkait internet, belum memahami dampak positif internet karena masih terlena dan menikmati pola kehidupan lama yang serba nyata dengan berinteraksi langsung dalam menjalin hubungan sosial.
4. munculnya berbagai konten buatan pengguna medsos yang tidak mendidik
konten buatan pengguna medsos yang tidak mendidik dapat beraneka ragam bentuknya yang terkadang memuat konten pornografi, kekerasan, sex, cyber bully, humor berlebihan, dll. baik dalam bentuk foto, tulisan, gambar maupun video lalu diunggah ke akun medsos dan you tube pengguna yang dapat mempengaruhi mental orang lain untuk menirunya.
5. bahaya mengintai anak melalui kejahatan cyber
sebagai akibat bebasnya pengguna medsos mengunggah macam-macam konten di akun medsosnya lalu dilihat oleh anak, maka secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan anak. Anak adalah tipologi manusia peniru ulung karena itu orang tua harus benar-benar hadir dalam mengawal tumbuh kembang anak dan berusaha menjauhkan anak dari berbagai kejahatan termasuk kejahatan cyber. lalu apa yang harus dilakukan orangtua dalam menghadapi tantangan pengasuhan Anak di Era Digital? jawabannya dapat saya share disini sebagai hasil webinar yang saya ikuti hari ini yang dilaksanakan oleh pengurus Fatayat NU Wilayah propinsi Sulawesi Selatan dengan tema " Lindungi Anak dan Remaja dari Kejahatan Syber Medsos" menghadirkan 3 pemateri yakni; Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, SS, M.Si sekjen PP Fatayat NU, Syamsul Rijal Adhan, S.Ag, M.Si Ketua PW LTNU sulsel sekaligus peneliti Balitbang Makassar serta Sunarti Sain pimpinan Radar Selatan plus aktivis perempuan dan media. dalam webinar ini terungkap bahwa peran orang tua sangat penting untuk menyelamatkan anak dari kejahatan cyber dengan 2 cara umum dan khusus. cara umum dapat ditempuh sebagai berikut:
1. membangun rapport dan komunikasi yang baik dan efektif dengan anak. hal tersebut berupa membangun kepercayaan anak, membiasakan berkomunikasi dioalogis, lebih banyak mendengar anak, tidak menghakimi, memberi pemahaman dengan cara logis, membangun komitnen dan kesepakatan serta memberi apresiasi atau penghargaan atas prestasi anak.
2. memberi teladan yang baik, Keteladanan merupakan suatu metode pendidikan yang paling efektif dalam membina ahlak anak. Memberikan contoh yang baik kepada anak dapat memiliki kesan yang baik bagi anak. Secara psikologi, semua gerak gerik orangtua, cara berkomunikasi, penggunaan isyarat dan bahasa tubuh orangtua cenderung ingin diikuti oleh anak. bahkan dimata anak orang tuanya adalah idolanya karena itu anak akan sangat kecewa jika memiliki orang tua yang tidak bisa menjadi teladan yang baik bagi anak. 
3. membangun karakter positif pada anak seperti memiliki karakterpeduli baik peduli sosial maupun peduli lingkungan. orang tua harus membiasakan akan melakukan aktivitas yang berisi konten kepedualian dengan melibatkan anak dalam berbagi zakat, sedekah dan infak, menyantuni anak Yatim, menyantuni fakir miskin dan orang-orang yang berkebutuhan khusus. agar anak tidak suka membully seseorang meskipun memiliki keterbatasan fisik justeru mereka seharusnya dihormati dikasihi dan dicintai. kepedulian ini tidak hanya terbatas kepada sesame manusia melainkan harus diperluas rasa peduli itu mencakup kepada seluruh makhluk Allah swt.
4. melatih disiplin positif kepada anak. dalam mendidik anak dibutuhkan konsistensi semua pihak suamiisteri harus sepakat terhadap sebuah aturan dan disosialisasikan kepada anak, dijalankan Bersama, menetapkan sanksi dengan ketat tidak boleh salah satu dari orang tua keras sementara yang lain longgar dalam menerapkan aturan karena hal tersebut akan membuatkan celah pada anak untuk tidak disiplin dan melakukan pelanggaran tanpa merasa bersalah.
5.menjadi pengasuh kreatif. dalam hal ini orang tua dapat menyediakan variasi dan alternatif bermain anak (indoor dan outdoor). permainan tradisional dapat menjadi alternatif dalam menumbuh kembangkan karakter anak sekaligus dapat menghindarkan anak dari kejahatan cyber karena secara otomatis anak yang aktif melakukan permainan tradisional akan terkurangi waktu interaksinya dengan HP yang merupakan sumber utama adanya kejahatan cyber. Selain itu orang tua dituntut harus mampu memfasilitasi berkembangnya bakat dan mint anak baik itu di bidang seni, olahraga maupun akademik anak. 
cara khususnya adalah dengan membangun kesepakatan dalam penggunaan internet sebagai berikut:
1. atur waktu penggunaan
2. sepakati lokasi penggunaan
3. selektif dalam melihat konten
4. lakukan control atau pendampingan
5. menjadi teman anak dalam dunia cyber
orang tua hendaklah mengenali perilaku adiksi (ketergantungan) terhadap gadget, agar mudah melakukan upaya penyelamatan pada anak:
1. bermain di atas 6 jam sehari
2. frustasi, marah, tantrum jika dilarang
3. enggan bersosialisasi
4. sulit konsentrasi
5. rutinitas terganggu
6. bolos sekolah
7. tidak punya eman
8. perilaku agresif
strategi yang dapat ditempuh orang tua dalam mengantisipasi anak dari perilaku adiksi (ketergantungan) gadget adalah sebagai berikut:
1. kurangi frekuensi bermain secara bertahap
2. ajak bersosialisasi dengan teman sebaya
3. ajak anak beraktivitas/bermain positif dan menarik lainnya
4. batasi anak berinteraksi dengan gadget dengan terlebih dahulu orangtua memberi contoh membatasi diri terlebih dahulu. usahakan tidak memegang HP dihadapa anak kecuali dalam keadaan terpaksa dan anak tahu bahwa itu terkait kelancaran tugas profesi orang tua sehingga dengan terpaksa memegang HP.
5. beri reward yang bukan dalam bentuk memberi tambahan waktu dalam bermain gadget
6. kenalkan lingkungan yang menyenangkan misalnya dengan mengajak anak refreshing atau rekreasi ke pantai, ke taman, ke gunung, dan ke tempat-tempat indah indah lainnya atau mengajaknya berolahraga balap sepeda menjelajah hingga ke pelosok yang memiliki keindahan alam yang menarik sambal berburu kuliner yang sehat dan terjangkau.
7. jadilah teladan bagi anak dalam berbagai keadaan
wallahu a'lam


2 komentar:

7 PERBEDAAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM

Mengawali pertemuan ini marilah kita bersama sama mengumandangkan lafaz pujian kepada Allah Azza wajallah sang pemilik segala kenikmatan den...