Selasa, 30 Juni 2020

Menanamkan Karakter melalui Nyanyian Tradisional Bugis "Elongmpugi"


Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa bernyanyi, termasuk musik dapat membantu prestasi anak dalam banyak hal. Sekolah St. Augustine School of the Arts, Amerika, yang hampir seluruh peserta didiknya berasal dari keluarga miskin dan terbelakang sangat senang belajar, terlebih ketika belajar musik, bahkan mengambil tes di luar jam sekolah untuk bermain musik. Hasilnya, anak didik  di sekolah ini memiliki prestasi akademik yang termasuk paling tinggi di seluruh Amerika. Lebih dari itu survey membuktikan bahwa tiga dari 17 negara yang peserta didiknya setingkat SMP, unggul di bidang sains adalah Negara yang memasukkan pelajaran musik dengan sangat intensif di dalam kurikulum sekolahnya. Ketiga Negara tersebut adalah Hongaria, Jepang dan Belanda.

                Selain itu, seni musik maupun bernyanyi mempunyai sifat unik yang mampu membuka pintu gerbang memasuki pikiran dan wawasan baru. Bermain musik dan bernyanyi juga dapat menjadi stimulan bagi imajinasi seluruh bagian otak secara maksimal, sebab ketika mendengarkan sebuah musik, lagu atau bernyanyi, otak kiri yang memiliki potensi bahasa, logika, matematika dan akademik akan memproses lirik lagu yang didengar atau dinyanyikan. Sedangkan otak kanan yang memiliki potensi irama, persamaan bunyi, gambar, emosi dan kreativitas akan memproses musik dan nyanyian yang didengar. Tahun 2013 saya berkunjung ke salah satu sekolah bertaraf Internasional di Jakarta berlokasi di tepi danau Sunter kampus I (ruang belajar) dan di puncak sekitar Bogor kampus II  (tempat outborn,refreshing ilmiah) sekolah tersebut adalah "Jubilee School" sangat menarik sekolah internasional ini karena didirikan oleh seorang Habib terntu saja berketurunan Arab dan masih sangat dekat kekerabatan saya dengan pemilik sekolah ini yakni Habib Sayyid Ibrahim Abdollah Assegaf lahir di tanah Bugis tepatnya di kota Sengkang Kabupaten Wajo namun dibesarkan di kota Makassar lalu hijrah   ke Jakarta, hal paling menarik yang saya maksud adalah  meskipun pemilik yayasan dan semua pengelola yayasan ini beragama Islam berketurunan Arab dan Bugis, namun siswanya yang jumlahnya ribuan 90 % keturunan Tionghoa/Cina yang beragama Nasrani, Kongfucu dan Budha. ketika saya konfirmasi lebih jauh kepada pemilik yayasan yang tak lain saudara sepupu saya beliau mengatakan bahwa sekolah bertaraf Internasional mahal biayanya sehingga hanya orang-orang berduit yang bias mengenyam Pendidikan di sekolah ini, sementara umumnya orang Cina berduit. Melihat tingginya tingkat persaingan merekrut siswa, maka di sekolah ini bukan hanya kurikulum sekolah internasional yang diterapkan melainkan ada beberapa hal yang menjadi ciri khas sekolah ini yakni siswa siswinya diajarkan Bahasa Mandarin serta diajarkan Naynyian Tradisional Tionghoa. Ternyata metode inilah yang menyebabkan orang-orang Cina menetapkan hati mempercayakan Jubelee school sebagai tempat anak-anak mereka belajar menimba ilmu. 

Salah satu suku yang terkenal memiliki karakter kuat dan pemberani yang mendiami wilayah Sulawesi selatan adalah suku Bugis. Sejak dahulu, Sulawesi Selatan dikenal memiliki keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Keanekaragaman budaya daerah Sulawesi Selatan, antara lain berupa peninggalan sejarah, tradisi, dan adat-istiadat, Salah satu peninggalan sejarah yang menyimpan berbagai aspek kebudayaan suku bangsa yang memiliki aksara sendiri ialah naskah. Orang Bugis adalah salah satu suku bangsa yang beruntung memiliki aksara sehingga aspek kebudayaan pada masa lampau masih dapat tersimpan dalam naskah Lontarak. Salah satu bentuk naskah Lontarak Bugis yang berhubungan dengan kearifan dan sarat dengan nilai  karakter dikenal dengan istilah pappaseng (pesan leluhur). Pappaseng dapat berupa nyanyian atau lagu yang mengandung wasiat atau nasehat.

 Elong sarat dengan makna dan pesan-pesan moral, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman hidup, sebagai pengatur tingkah laku pergaulan dalam masyarakat. Karena itu, perlu adanya upaya pengkajian secara serius guna mengungkap kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya terutama nilai edukatif yang diperlukan untuk pembinaan karakter generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Untuk membangun kebudayaan orang Bugis sebagai dasar mencapai kesempurnaan hidup, maka perlu menyediakan ramuan pengetahuan pengalaman masa silam yang lebih banyak. Hanya dengan demikian nilai-nilai budaya itu dapat menjiwai pertumbuhan sekalian aspek kebudayaan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa depan.
Ada beberapa nyanyian Bugias yang dapat dijadikan media pembentuk karakter khusnya karakter cinta ilmu diantaranya;
1.       Engkalingani anakku
Bua ati cayya matakku
Narekko battoaki matu ancajiki tau medec eng,
Narekko battoaki matu ancajiki tau magguna
Tuntukki paddisengeng mauni maga belana
Aja mumangingngi bara mulolongengngi
Mupakkegunai lao ri agamamu
Mupakkegunai lao ri bangsamu
Indommu mellau tulung
Ri tungke-tungke wettu
Bara mulolongengngi
minasa madecemmu

artinya:

Dengarlah wahai anakku
Buah hati cahaya mataku
Jika kau besar nanti jadilah kau orang baik
Jika kau besar nanti jadilah kau orang berguna
                tuntutlah ilmu pengetahuan walaupun sangat jauh
                janganlah kau bosan agar engkau dapatkan keberhasilan
                kau gunakan pada agamamu
                kau gunakan pada bangsamu
ibumu selalu berdo’a
di tiap-tiap waktu
agar kelak kau dapati
cita-cita baikmu
               
Elong atau lagu di atas biasanya dinyanyikan seorang ibu dalam proses menidurkan anaknya sambil diayun atau dibelai lembut punggung dan diusap kepalanya hingga anak tersebut tertidur. dengan seringnya anak mendengar lagu tersebut waktu kecil diharapkan pada diri anak tertanam rasa cinta pada ilmu pengetahuan kelak hingga dewasa. Sang ibu berharap anak-anaknya kelak meraih kesuksesan melebihi kedua orangtuanya. Orang tua meyakini bahwa hanya dengan menuntut ilmu pengetahuan yang tinggi pantang menyerah mampu meraih kesuksesan.  Elong tersebut pada bait pertama mengisyaratkan betapa seorang ibu memuji anaknya dengan panggilan yang sangat indah yaitu buah hati cahaya mataku agar kelak ketika dewasa dapat menjadi anak yang baik dan berguna. Bait kedua tentang harapan ibu agar kelak anaknya dapat mendedikasikan ilmunya dalam urusan agama dengan menjadi ulama ahli di bidang agama Islam dan dalam urusan kenegaraan dengan menjadi pejabat Negara. Selain itu elong ini juga menjelaskan tentang konsekuensi menuntut ilmu pengetahuan yakni harus berjauhan antara ibu dan anak, ibu harus ikhlas melepas anaknya merantau menuntut ilmu dan anak bersungguh-sunggu belajar agar tercapai yang dicita-citakan. Hal tersebut dijelaskan pada bait terakhir lagu ini berisi pesan bahwa sekalipun anak jauh dari ibunya dalam merantau menuntut ilmu tapi iringan do’a dari kedua orang tua selalu bersama sang anak agar anak berhasil meraih cita-citanya. Di kalangan masyarakat Bugis banyak dijumpai orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah namun anak-anaknya sukses berpendidikan tinggi dan pengusaha sukses.
2.       Ajalaloki nengka mallupai gurutta
Iyyatu nassabari narilolongeng decengnge
Iyyami nassabari naengka paddisengetta
Mancaji suloi ri lino ri ahera
                Engngerangngi ri beccutta
Narapi lettu battowa
                Masussana temmangingngi sibawa ati sabbara
                Mamuarekki mancaji tau makkeguna

Artinya:

Janganlah sekali-kali kau lupakan gurumu
Dialah penyebab kau temukan kebaikan
Dia juga penyebab sehingga kita dapat ilmu
Menjadi pelita di dunia dan di akhirat
                Ingatlah waktu kecilmu
                Hingga kau dewasa kelak
                Susah dan tanpa bosan disertai hati yang sabar
Semoga kau jadi kelak orang berguna
                Elong di atas sering dinyanyikan pada acara penammatan siswa atau ada acara perlombaan di sekolah  dan menjelaskan tentang pesan seorang guru agar jangan melupakan jasa guru karena guru menjadi penyebab seseorang meraih kebaikan juga mendapatkan ilmu pengetahuan. Ilmu itu adalah pelita penerang dalam meraih kemudahan hidup di dunia dan di akhirat. Pada bait terakhir lagu ini dijelaskan tentang pentingnya anak mengenang waktu kecinya tentang pengorbanan seorang guru. Betapa berat perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mendidik siswanya. Mendidik manusia bukan hanya dilakukan di waktu kecil melainkan hingga dewasa. Guru merasakan penderitaan yang luar bisa dalam mendidik dan mendewasakan anak. Namun demikian, guru tak pernah bosan bahkan dengan hati yang sabar selalu mendoakan siswanya agar menjadi orang berguna di masa depan.

3.       Alamasse sea mua
Tau naompori sesse kale
Nasaba riwettu baiccu’na
Dememeng naengka namagguru
                Baiccuttamitu naweddissiseng
                Narekko battowaki masussani
                Nasaba maraja nawa-nawani
                Enrengnge poletoni akuttungnge

Artinya:

Alangkah sia-sia
Orang yang menyesal
Sebab waktu kecilnya
Tidak pernah sama sekali belajar
                Waktu kecil saja memungkinkan belajar
                Jika telah dewasa susah belajar
Sebab kalo sudah tua banyak pikiran
                Juga datang rasa malas
Elong di atas menjadi nyanyian wajib pada jenjang pendidikan usia dini dan jenjang sekolah dasar di Kabupaten Bone. Kabupaten Bone adalah pusat komunitas masyarakat Bugis yang mendiami wilayah propinsi Sulawesi Selatan selain beberapa kabupaten lainnya seperti Wajo, Soppeng dan Sidenreng Rappang. Bahkan lagu ini sudah punya nada dan dapat dimainkan dengan alat musik modern seperti piano, seruling dan lain-lain. Lagu ini selalu diperlombakan dalam berbagai event terutama di acara tujuhbelasan oleh siswa Sekolah Dasar dalam bentuk vocal grup dan diiringi musik modern dan seruling.  Pesan yang terkandung dalam lagu ini menjelaskan tentang penyesalan orang dewasa yang pada waktu kecil malas belajar dan kalau sudah dewasa sulit belajar karena selain banyak pikiran juga dihinggapi rasa malas. Namun apalah artinya sebuah penyesalan. Dalam sebuah pepatah berbunyi sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna.

      4.     Bali bola makawee padai silessurengnge
Sitirowang ri decengnge tessitirowang ri jae
Ribencinna balibolae siri ati temmagguna
Macipini lolangengnge nakurangini dallee
Nigi nigi tau mateppe taroi napakalebbi
Yamanenna bali bolana siajing tessiajinna
                Tungke-tungke bali bolae Engka maneng appunnanna
                Bicara sipatalinge pangkaukengnge sitinaja

                Artinya:
               
                Tetangga dekat bagaikan saudara
                Saling menunjukkan kebaikan dan tidak saling menunjukkan kejahatan
                                                Kebencian pada tetangga disertai iri hati tidaklah berguna
                                                Sempit pergaulan berkurang rezki
                                Barang siapa yang beriman hendaklah memuliakan
                Semua tetangganya keluarga maupun bukan keluarga
                                                Tiap-tiap tetangga mempunyai hak
                                                Bicara saling mengingatkan dan perbuatan harus sesuai biasanya
Lagu ini sangat fenomenal di kalangan generasi yang berusia 30 tahun ke atas, namun sudah mulai tidak dikenal pada generasi yang berusia  dibawah 30 tahun. Hal tersebut disebabkan tidak adanya wadah yang dapat melestarikan lagu semacamnya. Untuk itulah salah satu faktor penyebab penulis mengangkat kajian ini sebagai upaya pelestarian budaya elong yang sarat dengan nilai karakter. Seperti pada lagu ini memuat pesan tentang pentingnya seseorang memiliki karakter peduli sosial khusunya berbuat baik pada tetangga. Salah satu faktor penyebabTerjadinya berbagai kekerasan baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai karakter peduli sosial di kalangan individu dan masyarakat umum. lagu ini berisi pesan bahwa tetangga dekat bagaikan saudara harus saling menunjukkan kebaikan dan tidak saling menunjukkan kejahatan, kebencian pada tetangga disertai iri hati tidaklah berguna karena menyebabkan sempit pergaulan dan berkurang rezki. Tetangga yang dimaksud disini bukan hanya yang tinggal di dekat rumah namun juga kepada teman sepermainan, teman sekolah, relasi bisnis maupun rekan kerja di kantor.
Saya berharap semoga lagu lagu Bugis ini dapat kembali digaungkan di tengah masyarakat Bugis sebagai salah satu metode pembentukan karakter melalui pelestarian di Lembaga Pendidikan Dasar.  Saya selaku salah seorang dari 11 orang pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bone hari ini mengikuti rapat rencana program kerja Dewan Pendidikan Kabupaten Bone saya berharap lagu-lagu ini dapat diperlombakan di iven tujuh belasan sehingga semua masyarakat akan mengenang dan mengenalnya.

Sabtu, 27 Juni 2020

Mengapa Orang Bugis Gemar Merantau (Sompe')?

Orang Bugis terkenal dengan kegemaran merantau (sompe') bukan hanya dalam wilayah Sulawesi lintas kabupaten tapi hingga ke seluruh pelosok negara kesatuan Republik Indonesia bahkan hingga ke manca negara. pada hari Sabtu 27 Juni 2020 saya mengikuti pertemuan cendikiawan Bugis Makassar I tahun 2020 dengan tema "aktualisasi cendikiawan Bugis Makassar dalam membangun peradaban bangsa" acara ini berlangsung 2 hari yakni Sabtu dan Ahad tanggal 27-28 Juni 2020. Webinar ini berlangsung melalui aplikasi zoom di bagi ke dalam 4 ruang grup diskusi salah satu ruang tersebut adalah ruang Pendidikan, agama, budaya dan hukum. Ruang diskusi 2 ini  diikuti oleh hampir 300 orang umumnya orang Bugis dan Makassar para perantau dari berbagai daerah bahkan banyak dari luar negeri termasuk pamateri Imam Syamsih Ali langsung dari Amerika Serikat memaparkan materinya sedangkan peserta ada dari Arab Saudi, Mesir, Doha Qatar, Malaysia, dll. Pada ruang diskusi 2 ini menampilakan banyak pemantik, diantara pemantik tersebut yang paling banyak mengungkap terkait budaya Bugis dengan menggunakan logat Bahasa Bugis yang sangat fasih hingga mengungkap banyak sekali papaseng toriolo (pesan leluhur) adalah Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. dalam pemaparannya beliau mengungkap bahwa peradaban Bugis tidak hanya bisa diitemui pada  daerah asal komunitas Bugis yakni di Sulawesi Selatan, melainkan peradan Bugis dapat dijimpai pada karakter dan kehidupan orang Bugis dimanapun mereka berada karena orang Bugis adalah salah satu suku yang amat gemar merantau dan patuh memegang prinsip paseng toriolo (pesan leluhur). menurut beliau ada 4 sebab orang Bugis itu merantau yaitu; siri masiri, siri ripakasiri, kurassiri dan matanre siri.. selanjutnaya penulis akan jabarkan sesuai pengalaman dan pengetahuan sebagai orang Bugis sebagi berikut:
1. siri masiri yaitu malu yang bersumber dari dorongan dari dalam diri sendiri nassabari degaga parumpaja ri kamponna artinya mereka merantau akibat tidak mau dihina karena terbatasnya sumber penghidupan di kampung halaman tanah kehirannya. Biasanya orang seperti ini akan memaksimalkan segala daya dan upaya di negeri rantauan agar bisa sukses dan kabar kesuksesannya akan diberitakan ke kampung halaman melalui para perantau lain atau dia sendiri pulang kampung untuk mengenang kampung halamannya sekaligus bersilaturrahim dengan sanak keluarga setelah berhasil dalam rantauan (tradisi mudik). Tradisi mudik ini biasanya berlangsung pada hari Raya atau menghadiri pesta pernikhana keluarga termasuk jika ada keluarga dekat wafat. 
2. siri ripakasiri artinya malu yang muncul karena dipermalukan biasanya terjadi akibat tradisi dipoppangi tanah (diusir dari kampung halaman akibat melakukan perbuatan yang melanggar adat) misalnya; berzina, kawin lari, membunuh, durhaka pada orang tua atau melakukan dosa besar lainnya sehingga dipali/dipaoppangi tanah (diusir/ dianggap telah mati ). umumnya orang seperti ini akan merantau sepanjang hayatnya karena malu kembali ke kampung halamannya karena dia sudah dianggap teah mati oleh keluarganya. orang seperti ini walaupun terusir dari kampungnya tapi kampung tujuannya tempat berlabuh akan menjadi kampung tinggalnya yang baru dan akan menjalani kehidupan normal di tempat barunya  itu hingga akhir hayatnya, mereka enggan pulang karena sudah danggap telah mati oleh keluarganya dan penduduk lainnya.  namun demikian dalam kenyataannya sampai hari ini khususnya pada kasus Kawin lari ada tradisi "maddeceng" yakni pasangan pengantin Kawin lari bisa kembali pulang kampung setelah sukses dalam rantauan dengan melakukan upaya mediasi dengan pihak keluarga melalui jasa orang yang disegani oleh keluarga (pihak ketiga yang dapat menjembatani kedua belah pihak dalam hal ini anak dan kediua orang tuanya hingga bisa berdamai kembali).
3. kurassiri/matesiri yakni merantau akibat sudah tidak punya harga diri lagi di kampung halaman. orang seperti ini umumnya kembali besilaturrahim jika sudah sukses dirantau meskipun adajuga yang memilih tidak kembali walaupun telah sukses akibat keluarga dekat sudah wafat semua.
4. matanre siri yaitu orang yang merantau akibat memiliki rasa malu yang tinggi. Dia merantau bukan karena dia miskinatau  kurang sumber penghidupan tapi dia ingin meraih hidup lebih baik dan menebar mandfaat kepada lingkungan sosial yang lebih luas. Biasanya kasus merantau dengan motif ini disebabkan seseorang itu punya potensi yang luar biasa dan merasa sulit berkembang dalam lingkungan sosial yang terbatas di kampung halaman umumnya mereka adalah ilmuan dan para cendikiawan yang hebat, setelah sukses di rantauan, mereka akan kembali membangun sarana dan prasarana kampung kelahirannya dengan mendidirikan masjid atau yayasan Pendidikan dan lain sebaginya. 
kesuksesan orang Bugis ri somperenna (dalam  rantauan )tak lepas dari pesan-pesan lehurur dan pesan agama tentunya. diantara pesan leluhur Bugis yang menginspirasi kesuksesan seseorang dalam rantauan adalah:
1. iyapa muita deceng narekko poleko sompe artinya seseorang baru dapat melihat sesuksesan dirinya jika ia pernah merantau
2. de nalabu' matanna essoe ri tengngana Bitarae artinya mustahil matahari tenggelam di tengah teriknya artinya seseorang tidak boleh menyerah pada takdir teruslah berusaha sepanjang matahari masih bersinar karena masih banyak harapan untuk meraih kesuksesan selama manusia itu belum wafat. jadi matahari bersinar diumpamakan kehidupan yang terus berjalan dan labu essoe diumpanmakan kematian, jadi selama matahari bersinar teruslah berjuang hingga ajal menjemput.
3. resopa temmangingi namalomo naletei pammasena dewatae artinya hanya dengan kerja keras sehingga mudah memperoleh rahmat dari Tuhan. paseng ini menyebkan karakter dasar masyarakat Bugis itu adalah kerja keras hanya saja jika dia dari kalangan bangsawan yang terbiasa dilayani terkadang cenderung malas bekerja dan suka memerintah walaupun tidak semua bangsawan itu malas. Namun ketika mereka merantau karakter pemalas itu akan hilang dan muncullah karakter aslinya sebagai orang Bugis yang pekerja keras, maka jangan heran ketika di kampung halaman kehidupannya biasa-biasa saja dan tidak begitu sukses namun setelah merantau berhasil meraih kehidupan yang lebih baik.   
4. lebbireng mui mate maddara naiya  mate malupu artinya lebih baik mati dalam keadaan luka parah dari pada mati kelaparan. ini tersirat makna usaha keras meraih penghidupan hingga digambarkan berdarah-darah hingga penuh luka bagai masyarakat Bugis lebih baik mati menderita karena berusaha dari pada mati kepalapan tanpa usaha.
5. Lebbirenggi tellenge naiya malie artinya lebih baik mati tenggelam dari pada mati karena hanyut. pesan ini mengandung makna pentingnya memupuk keberanian dalam hidup jangan lari dari kesulitan hidup tapi tetaplah bertahan bekerja keras hingga meraih kesuksesan.
wallahu a'lam

Falsafah "Ponggawa" dalam Membangun Karakter Kepemimpinan Orang Bugis


Suku Bugis merupakan sebuah etnis terbesar yang mendiami pulau Sulawesi bagian Selatan Sejak dahulu kala Sulawesi Selatan dikenal memiliki keanekaragaman budaya yang tinggi. antara lain berupa peninggalan sejarah, tradisi, dan adat-istiadat, Salah satu peninggalan sejarah yang dimiliki orang Bugis adalah aksara lontarak. Dari aksara inilah lahir naskah yang dapat dibaca generasi sekarang. Aksara Bugis biasa juga disebut huruf lontarak. Orang Bugis beruntung memiliki aksara sehingga aspek kebudayaan pada masa lampau masih dapat tersimpan dalam naskah lotr (lontarak/aksara). Salah satu bentuk naskah lotr augii (Lontarak Ugi/aksara Bugis) yang berhubungan dengan kearifan dan sarat dengan nilai dan karakter dikenal dengan istilah  (ppaseng) artinya ‘Pesan-pesan,  nasihat, maupun wasiat. (paseng) merupakan satu  pernyataan yang mengandung nilai karakter dan seni keindahan berbahasa, selain itu pesan dalam bahasa Bugis dapat juga berfungsi sebagai sistem sosial, maupun  sistem budaya dalam  kelompok masyarakat Bugis. Dalam ppsE/pappaseng  memuat gagasan yang besar dan ide-ide yang luhur, pengalaman yang berharga, pertimbangan yang mumpuni tentang kebaikan dan keburukan dalam mengarungi kehidupan ini. 

(paseng/pesan) berisi wasiat moral karena di dalamnya terdapat nilai-nilai karakter yang dapat dijadikan pandangan hidup dan pengatur tingkah laku pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itulah, diperlukan adanya upaya serius guna mengkaji dan mengungkapkan kembali nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya terutama nilai pendidikan yang diperlukan untuk pembinaan karakter generasi muda sebagai calon pemimpin (ponggawa) di masa depan. Untuk membangun kebudayaan Bugis, maka perlu upaya penggalian pengetahuan yang bersumber dari pengalaman masa silam para leluhur berupa paseng (pesan) yang terwariskan melalui Bahasa tutur (lisan) maupun dalam karya tulis semisal Lagaligo untuk dijadikan teladan generasi sekarang dan akan datang
Orang Bugis memiliki karakter kepemimpinan (ponggawa) yang baik karena mereka dikenal pemberani (warani) dan pekerja keras (reso temmangingngi) serta pantang menyerah (teya lara'). dalam sebuah webinar yang berlangsung hari Sabtu 27 Juni 2020 saya mengikuti acara yang digagas oleh dalam acara tersebut menampilkan banyak pemantik diantaranya; prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, (Bugis Bone) imam Syamsih Ali (Bugis Bulukumba) yang mukim di Amerika Serikat serta Prof. Dr. H. Alwi Shihab, MA (Bugis Sidrap). semua pemateri tampil dengan apik memberikan wawasan keilmuan terkait Pendidikan, agama, hokum dan budaya. saya sangat tertarik dengan pemaparan Prof. Nasar yang banyak mengungkap falsafah hidup orang Bugis dalam bentuk pappaseng to riolo (pesan-pesan leluhur) terkait kepemimpinan. menurut Beliau karakter kepempinan orang Bgis tak lepas dari pesan leluhur yang menjiwai seluruh aspek kehidupannya. diantara pesan yang dimaksud adalah.
1.  Narekko laoko sompe ri kamponna tauwwe ajalalo muassarang tellue cappa iayanaritu, cappa lila, cappa kawali, nenniya cappa katawang artinya: (Jika engkau pergi merantau di negeri orang jangan pernah engkau berpisah dengan 3 ujung yaitu; ujung lidah (kemampuan berdiplomasi), ujung kawali/senjata tajam khas Bugis yang berarti (keberanian) dan ujung kemaluan (pernikahan). 3 kemampuan inilah yang menjadi dasar seseorang bias menjadi ponggawa atau pemimpin yaitu kemampuan berdiplomasi ketika menghadapi masalah, keberanian jangan pernah takut agar disegani lawan serta pernikahan dengan putri Raja agar bisa dekat dengan pusat kekuasaan.
2. narekko sompekko ri kamponna tauwwe ajalalo muamaelo mancaji anagguru naekiya ancajilaloko ponggawa namotoni puggawa parampomi artinya: Jika engkau merantau ke negeri orang jangan pernah engkau mau menjadi anak buah (bawahan) jadilah pemimpin walaupun itu hanya bosnya perampok, maka jangan heran ketika ke Jakarta ada bos preman orang Bugis tapi lebih banyak jadi pemimpin yang patut diteladani seperti; imam besar masjid istiqlal (prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA), prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA (mantan Menteri agama RI), Prof. Dr. H. Alwi Shihab, MA (mantan Menteri Luar negeri RI), HM. Jusuf kalla (mantan wapres 2 periode dengan 2 presiden yang berbeda), prof. Dr. H. Musda Mulia, MA (tokoh muslimah reformis yang pemikirannya menjadi referensi ilmua dunia terkait demokrasi, HAM, kesetaraan dan keadilan gender), dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Bugis lainnya yang patut untuk diteladani saat ini yang tak dapat saya tulis namanya satu persatu.  
3.bua tassanramua artinya: (buah jika jatuh pasti tumbuh berkembang beranak pinak menjadi banyak dan memberi manfaat bagi manusia yang banyak)  pesan leluhur ini menjadikan suku Bugis dimanapun mereka berada menganggap sama dengan kampung halamannya sendiri mereka membangun peradaban sesuai keahlian mereka masing-masing membaur dengan masyarakat setempat menjadi warga yang baik karena mereka berperinsip dimanapun mereka berada distulah dia harus massanra (menebar) kebaikan. untuk kemakmuran yang dapat disemai bersama. karena itu orang Bugis terenal dengan keramahannya, suka menolong sesame tanpa mebeda-bedakan asal usul, Bahasa, agama dan tradisi seseorang, orang Bugis mudah bergaul berinteraksi baik dalam hubungan perdagangan penjual dan pembeli, hubungan guru dan murid, hubungan punggawa pabbagang (nelayan) dengan sawinya, hingga hubungan dalam pentas kekuasaan antara atasan dan bawahan. 
4. deggaga tau mullei mancaji ponggawa magello narekko denalebbiriolo mancaji ana buah matturu ri ponggawana artinya: (mustahil seseorang itu menjadi pemimpin yang hebat jika tidak pernah menjadi bawahan yang patuh pada atasan).
Dengan pesan-pesan leluhur Bugis ini menjadikan orang Bugis secara kultural mewarisi karakter ponggawa, hingga dimanapun mereka berada akan berusaha menguasai asset-asset strategis di berbagai bidang kehidupan baik di bidang perdagangan, kelautan, politik, sosial budaya, agama, hukum dan Pendidikan. termasuk pertahanan dan keamanan. semoga tulisan ini menginspirasi kita menjadi ponggawa (pemimpin) yang baik  dan bertanggung jawab hingga dapat diteladani oleh berbagai kalangan. 
wallahu a'lam bi ssawab

Sabtu, 20 Juni 2020

Kesalingan Suami Isteri dalam Membangun Keluarga Muslim Berkeadilan Gender

Hari ini Sabtu tanggal 20 Juni 2020, saya mengikuti webinar yang diadakan oleh para alumni AIMEP (Autralia-Indonesa Muslim Echange Program) adalah sebuah program pertukaran tokoh muda muslim di Australia dan Indonesia diselenggarakan oleh Institut Australia-Indonesia dan Universitas Paramadinah, program internasional itu menerbangkan 10 figure belia Muslim Indonesia ke Australia, dan mengutus 5 pemuka yuwana Muslim Australia ke Indonesia setiap tahun. untuk bias mengikuti program ini yang dihelat sejak tahun 2002 itu, para peserta harus melewati seleksi yang sangat ketat, saya bukanlah alumni AIMEP namun karena acara webinar ini terbuka untuk umum, maka saya pun ikut dalam room meeting melalui aplikasi zoom tuk menambah wawasan keilmuan terkait ilmu menata keluarga agar bias lebih bahagia. acara ini dipandu oleh sahabat saya kanda Dr.
Mujahidah Mansur
dosen IAIN Samarinda mantan aktivis mahasiswa PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) komisariat IAIN Alauddin makassar tahun 90 an. acara webinar ini menghadirkan beberapa pemantik yang semuanya alumni AIMEP termasuk host dam moderatornya. diantaranya pemateri handal ustadzah Okki Setianah Dewi dan ibu Dr. Alimatul Qibtiyah, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus komisioner komnas perempuan. acara ini dihadiri banyak peserta termasuk kaum laki-laki namun didominasi oleh perempuan baik pemateri maupun peserta judulnya sangat menarik "kesalingan suami istri dalam keluarga muslim". kesalingan artinya saling menolong, saling meringankan beban, saling menyayangi, saling mencintai, saling mengasuh saling bekerja mencari nafkah dan melakukan aktivitas rumahtangga dg penuh keridhaan dan keikhlasan. Ada yang menarik dari ibu Alimatul Qibtiyah bahwa feminisme tdk anti keluarga, namun menolak mempatenkan satu model keluarga karena menurut beliau ada 5 model yg semua harus dihargai tergantung pilihan setiap keluarga yg menjalaninya yang penting tetsp menjunjung tinggi azas keadilan, azaz musyawarah dalam bingkai keluarga yang saling menghormati tanpa adanya unsur diskriminasi dan penghinaan hanya karena pilihan model yg berbeda. 5 model tsb adalah;
1. suami cari nafkah istri tidak
2. isteri cari nafkah suami tidak
3. suami dan isteri sama sama mencari
nafkah
4. suami dan isteri sama sama tidak cari nafkah krn mengandalkan warisan atau sdh tua hanya menikmati kekayaan yg sdh diusahakan diwaktu muda atau kiriman anak
5. singgle parent.
Sementara itu, dalam pemaparannya ustadzah Okki menyarankan adanya kontrak pra nikah yang menjadi aturan yg dijalankan secara  sukarela pasca perkawinan selama item item kontrak pra nikah itu tidak bertentangan dg ajaran Islam. beliau mengungkapkan bahwa dalam film KCB (ketika cinta bertasbih) sosok Anna Altafu nnisa mengajukan syarat sebelum menikah yakni tidak boleh ada poligami dalam perkawinannya. Beliau sendiri dalam kenyataam sebelum menikah juga mengajukan syarat sebelum menikah yakni izinkan saya sekolah hingga doktor dan dlm waktu dekat akan promosi doktor. Mereka semua orang hebat karena didampingi oleh patner sejati dalam suka maupun duka yakni suami hebat yg mengizinkan istri2nya berkarier di dunia publik dengan menanggung segala konsekuensinya salah satunya adalah berbagi peran yang saling meringankan dalam semua urusan termasuk dalam urusan domestik rumaj tangga. Baik ustadzah Okki maupun Dr. Alimatul Qibtiyah sama -sama mengurai bahwa urusan domestik seperti mencuci piring, menyapu, mencuci bukanlah mutlak kerja perempuan karena hal tersebut juga dilakukan oleh Rasulullah saw. hanya saja menurut hemat penulis umumnya masyarakat Indonesia membentuk kultur pembagian peran yang selama ini menekankan laki-laki di wilayah publik dan prempuan mengurusi wilayah domestik, namun karena perempuan hari ini sudah banyak berpendidikan tinggi, maka secara otomatis tidaklah sulit melihat keterlibatan perempuan dalam ranah publik demikian gencar terjadi. umumnya perempuan yang bekerja di sektor publik itu juga punya keluarga, maka sudah saatnya pasangan suami isteri saling meringankan peran. suami diringankan dalam mencari nafkah dan saatnya suami meringankan isteri dalam urusan domestic toh itu bukanlah kewajiban perempuan saja melainkan kewajiban bersama. 5 model rumah tangga yang disampaikan ibu Dr. Alim tersebut di atas, penulis sendiri telah menjalaninya 3 model selama 17 tahun masa perkawinanku. awal saya menikah suamiku cari nafkah saya tidak bahkan suami menyekolahkan hingga berhasil meraih gelar magister tahun 2003. setelah itu saya dan suami sama-sama cari nafkah hingga kuliah S3 lalu kami putuskan saya saja cari nafkah karena peluangnya lebih baik saya muballighah, dosen, pejabat kampus sejak PNS diawali dengan karier sebagai sekertaris kepala pusat studi Wanita STAIN Watampone tahun 2011-2015 lanjut jadi ketua PSW tahun 2015-2018 dan sekarang sedang menjabat kaprodi PAI S2 IAIN Bone. Dengan kesibukan yang amat luar biasa itu tentu saja saya kerepotan mengurus publik dan domestik secara bersamaan karena itu kami musyawarah dan menetapkan pembagian kerja yang pleksibel meski urusan cari nafkan dibebankan ke saya namun jika sempat saya tetap melakukan aktivitas domesik bersama suami dan itu terasa lebih indah merajut kebersamaan dalam kesalingan menuju terwujudnya relasi keluarga muslim yang berkeadilan gender, suamiku hebat, suamimu hebat, suami kita semua hebat,...insya Allah Amin.....

Jumat, 12 Juni 2020

Ada Apa di Balik Pertemanan

Pertemanan sering juga disebut persahabatan adalah sebuah istilah yang mengandung unsur hubungan dan kerjasama yang saling mendukung antara dua orang atau lebih dalam melakukan interaksi sosial yang didalam hubungan tersebut melibatkan aspek pengetahuan, penghargaan, afeksi dan perasaan. konsekuensi sebuah pertemanan menghendaki kesetiaan dan kebersamaan untuk menikmati berbagai kegiatan yang mereka sukai. selain itu mereka juga akan saling tukar informasi, belajar bersama, makan Bersama, ibadah pun seringkali dilakukan bersama hingga tolong menolong antara satu dengan yang lainnya selalu terjalin. mereka saling menyayangi, saling mendukung, terbuka dengan berbagai problematika kehidupannya dari urusan keluarga, Pendidikan hingga percintaan. pertemanan ada yang bertahan lama adapula yang tidak mampu bertahan. banyak factor yang menentukan hingga pertemanan itu mampu bertahan bertahun-tahun bahkan ada yang bertahan hingga di ujung nyawa, Dalam ajaran Islam pertemanan itu sejatinya bukan hanya di dunia tapi ada jenis pertemanan yang mampu mengikat bukan hanya di dunia namun langgeng hingga di dalam surga meraih ridha dan magfirah Allah swt.
pertemanan yang baik mengajarkan akan berbagai nilai positif seperti; nilai-nilai kebaikan secara umum karena pada hakikatnya teman sejati selalu ingin memberikan yang terbaik untuk sahabatnya rela berkorban dari korban meteri hingga korban perasaan demi mempertahankan sebuah makna pertemanan/persahabatan. nilai lainnya yang lebih spesifik adalah munculnya rasa simpati (peduli terhadap masalah yang dihadapi orang lain) dan empati (mampu memberi solusi dari berbagai masalah yang menimpa orange lain), di dalam pertemanan juga ada kejujuran yang boleh jadi sulit terungkap pada orang lain. dalam banyak kasus anak remaja akan tebih terbuka dan jujur di hadapan sahabatnya dibandingkan di hadapan orang tuanya. pastinya persahabatan akan mengajarkan nilai kesetiaan.
Pernahkah kita mengamati jenis-jenis pertemanan yang terjalin di sekitar kita, berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis pertemanan itu:
1. ta'arufan, pertemanan jenis ini seringkali disebut teman biasa tidak melibatkan emosi secara mendalam; misalnya teman yang baru berkenalan kadang ketemu lagi kadang pula tak berjumpa lagi, ada atau tidaknya tidaklah mempengaruhi terlalu jauh kehidupan kita. sehingga perteman jenis ini disebut juga kenalan singkat.
 2. taarikhan, adalah pertemanan yang melibatkan unsur kesejarahan; misalnya teman seasal daerah, teman kost, teman dalam perjalanan jauh yang mampu mengakrabkan antara satu dengan lainnya seperti perjalanan umrah, perjalanan bisnis, study tour, dan lain-lain
3. Faarihan, adalah teman sehobby atau pertemanan yang terjadi akibat bergabung dalam sebuh organisasi kesenangan seperti; pecinta moge, anak pecinta alam, persatuan balapan, supporter olahraga, dan lain-lain
4. ahammiiyyatan, adalah pertemanan yang didasarkan atas kepentingan bersama yang dimungkinkan saling menguntungkan pada saat-saat tertentu, contohnya dukungan kepada tokoh partai  politik tertentu sayangnya jika arah dukungan berubah putus pula pertemanan. makanya jangan heran pada tokoh politik tertentu pada periode sebelumnya sangat akrab namun pada periode lainnya mereka saling memojokkan, bersih tegang tak jarang saling menghina dan saling mengancam secara terbuka.
5. 'amalan adalah pertemanan yang didasarkan atas kesamaan profesi seperti; sama-sama dosen, perawat, dokkter, pelaut, petani, dll.
6. 'aduwwan, adalah musuh yang berpura-pura jadi teman, teman tipe ini sangat berbahaya karena dapat merusak segalanya apalagi kalau berhasil menjadi orang kepercayaan mereka akan berkhianat, menggunting dalam lipatan, menjadi musuh dalam selimut, sering juga diistilahkan pagar makan  tanaman nauzubillah
7. Hubban lillah, yaitu pertemanan yang didasarkan pada kecintaan kepada Allah.
semua jenis pertemanan akan hancur binasa kecuali satu jenis saja yang akan tetap berthan bukan hanya di dunia tapi akan terus langgeng hingga di akhirat. adaun tanda-tanda pertemanan yang langgeng ini adalah:
a. saling mengingatkan akan adanya Allah karena perlu kita taqarrub berzikir kepada-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya
b. saling mendo'akan dan saling mendukung untuk tercapainya harapan-harapan agar temannya sukses dan kesuksesan yang diraih itu akan dipersembahkan untuk pengabdian kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada alam semesta
c. berusaha untuk menjadi teladan baik dalam ucapan, sikap maupun perbuatan bagi sahabat kita, sehingga yang muncul adalah kejujuran, ketulusan, penuh cinta dan kasih sayang bagi orang lain sehingga lambat laun melalui pertemanan kita bias berubah menjadi manusia lebih baik.
mengingat pertemanan ini adalah hal yang sangat urgen dan pastinya setiap orang sudah pasti butuh pertemanan dalam eksis, maka berhati-hatilah dalam memilih teman jangan sampai salah pilih. teman dapat menggiring seseorang berakhlak seperti akhlak  maikaikat sebaliknya dapat pula mengantarkan seseorang menjadi syaitan yang durjana. bahkan dalam salah satu riwayat dijelaskan tentang perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu laksana penjual minyak wangi dan pandai besi. jika berteman dengan penjual minyak wangi akan sangat mudah mendapatkan bau wangi apakah melalui hadiah yang dikirim kepada kita ataukah kita beli kepadanya bahkan dengan kedekatan kita secara fisik dapat mencium bau yang sangat harum. namun jika kita berteman dengan pandai besi paling tidak kita akan mencium bau besi yang terbakar bahkan jika mendekat boleh jadi akan keciprat pakaian kita dengan tai besi yang dapat menimbulkan bekas berupa titik-titik hitam di pakaian.
demikianlah gambaran pertemanan dalam hidup ini, karena itu berhati-hatilah memilih hati jangan sampai sakit hati. ingat dibalik pertemanan ada naluri malaikat adapula naluri syaitan, semoga saja tidak salah pilih.
waallahu a'lam

Jumat, 05 Juni 2020

Peran Ayah dalam Pembentukan Character Building Anak Sejak Dini

Ayah adalah sosok yang seringkali diidolakan oleh anak. Hal tersebut disebabkan sosok ayah umumnya memiliki kelebihan fisik dibanding sosok ibu. Selain itu ayah adalah simbol maskulinitas yang cenderung memiliki sifat kuat, berani, bertanggung jawab,realistis, mudah bergaul, dll. Sedangkan ibu merupakan simbol feminin yang memiliki kecenderungan sifat lemah lembut, memiliki kepekaan rasa, penuh cinta, sabar, tekun, teliti, dll. Sinergisitas kedua tipikal sifat ini dibutuhkan dalam mendidik anak agar terwujud keseimbangan kepribadian pada diri anak sebagai dasar pembentukan character Building anak.
Namun, tak dapat dipungkiri adanya masyarakat yang tidak menyadari betapa pentingnya kehadiran ayah dalam mendidik dan mengarahkan watak, motivasi dan bakat anak. Perlu dipahami bahwa tugas ayah bukan hanya mencari nafkah dan menjadi wali saat anak perempuannya hendak menikah, namun lebih dari itu sosok ayah berkewajiban pula bersama ibu mendidik anak serta memelihara keharmonisan antar anggota keluarga. Keluarga harmonis diperlukan dalam membentuk character Building pada anak sejak dini. Character Building adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari
Dalam ajaran Islam, menarik untuk dikaji bahwa hampir semua tokoh tokoh hebat dalam mendidik anak ditampilkan sosok laki laki bukan perempuan. Sosok itu diantaranya Lukmanul hakim, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Ya'kub, Ali Imran,Nabi  Zakariyah, Nabi Syuaib, dll. 
Zaman pemerintahan amirul mu'minin Umar Bin Hattab, beliau pernah menegur seorang ayah yang awalnya datang mengadukan anaknya yang sangat buruk perangainya lalu dipanggillah anak tersebut lalu ditanya mengapa kamu berprilaku buruk, hormatilah orang tuamu jangan mempermalukannya dengan buruknya perangaimu! Namun, si Anak balik bertanya kepada Amirul Mu'minin apakah ada kewajiban Ayah terhadap anaknya ya Amirul Mu'munin? Maka Umar pun menjawab ada 3 hal yaitu: memilihkan Ibu yang baik, memberikannya nama yang baik, dan mengajarkannnya Al-qur'an. Maka anak itu menyangkal karena ternyata tak satu pun dari ke 3 hal itu dilakukan oleh Ayahnya.
Paling tidak dalam mendidik anak seorang Ayah dapat melakukan hal hal dibawah ini
1. Mengajarkan prinsip prinsip tauhid, ibadah dan akhlak serta mencontohkannya.
2. Membuatkan mainan sederhana dari kertas seperti pesawat, kapal laut, kamera, burung, dll.
3. Menemani anak bermain permainan tradisional agar tidak kecanduan gadget. Seperti bermain kelereng, layang layang, mobil mobil, hingga main karet, dll.
4. Melatih anak hidup bersih dengan mengajari cuci tangan, membersihkan tempat tidur, mencuci mobil/motor, dll.
5. Melatih anak hidup mandiri sejak dini misalnya makan minum, mandi, berpakaian, dan buang air/toilet training. Semua dilakukan sendiri oleh Anak
6. Memilihkan teman belajar dan bermain yang baik bagi anak sambil mengawasi agar tetap memperhatikan waktu salat, belajar, mengaji, dan istirahat.
7. Mendampingi anak menonton TV dan mengerjakan tugas tugas sekolah termasuk menonton tutorial khusus pengembangan bakat anak melalui link youtube.
Jika seorang Ayah dapat melaksanakan perannya dengan baik, dengan bersinergi dengan ibu maka generasi qurrata a'yun akan terwujud. Karena itu bangsa yg besar dan berperadaban tinggi dapat dibentuk melalui character building anak sejak dini dengan kehadiran sosok ayah bersama ibu bersinergi bersama mendidik anak sejak dini.



7 PERBEDAAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM

Mengawali pertemuan ini marilah kita bersama sama mengumandangkan lafaz pujian kepada Allah Azza wajallah sang pemilik segala kenikmatan den...