Selasa, 30 Juni 2020

Menanamkan Karakter melalui Nyanyian Tradisional Bugis "Elongmpugi"


Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa bernyanyi, termasuk musik dapat membantu prestasi anak dalam banyak hal. Sekolah St. Augustine School of the Arts, Amerika, yang hampir seluruh peserta didiknya berasal dari keluarga miskin dan terbelakang sangat senang belajar, terlebih ketika belajar musik, bahkan mengambil tes di luar jam sekolah untuk bermain musik. Hasilnya, anak didik  di sekolah ini memiliki prestasi akademik yang termasuk paling tinggi di seluruh Amerika. Lebih dari itu survey membuktikan bahwa tiga dari 17 negara yang peserta didiknya setingkat SMP, unggul di bidang sains adalah Negara yang memasukkan pelajaran musik dengan sangat intensif di dalam kurikulum sekolahnya. Ketiga Negara tersebut adalah Hongaria, Jepang dan Belanda.

                Selain itu, seni musik maupun bernyanyi mempunyai sifat unik yang mampu membuka pintu gerbang memasuki pikiran dan wawasan baru. Bermain musik dan bernyanyi juga dapat menjadi stimulan bagi imajinasi seluruh bagian otak secara maksimal, sebab ketika mendengarkan sebuah musik, lagu atau bernyanyi, otak kiri yang memiliki potensi bahasa, logika, matematika dan akademik akan memproses lirik lagu yang didengar atau dinyanyikan. Sedangkan otak kanan yang memiliki potensi irama, persamaan bunyi, gambar, emosi dan kreativitas akan memproses musik dan nyanyian yang didengar. Tahun 2013 saya berkunjung ke salah satu sekolah bertaraf Internasional di Jakarta berlokasi di tepi danau Sunter kampus I (ruang belajar) dan di puncak sekitar Bogor kampus II  (tempat outborn,refreshing ilmiah) sekolah tersebut adalah "Jubilee School" sangat menarik sekolah internasional ini karena didirikan oleh seorang Habib terntu saja berketurunan Arab dan masih sangat dekat kekerabatan saya dengan pemilik sekolah ini yakni Habib Sayyid Ibrahim Abdollah Assegaf lahir di tanah Bugis tepatnya di kota Sengkang Kabupaten Wajo namun dibesarkan di kota Makassar lalu hijrah   ke Jakarta, hal paling menarik yang saya maksud adalah  meskipun pemilik yayasan dan semua pengelola yayasan ini beragama Islam berketurunan Arab dan Bugis, namun siswanya yang jumlahnya ribuan 90 % keturunan Tionghoa/Cina yang beragama Nasrani, Kongfucu dan Budha. ketika saya konfirmasi lebih jauh kepada pemilik yayasan yang tak lain saudara sepupu saya beliau mengatakan bahwa sekolah bertaraf Internasional mahal biayanya sehingga hanya orang-orang berduit yang bias mengenyam Pendidikan di sekolah ini, sementara umumnya orang Cina berduit. Melihat tingginya tingkat persaingan merekrut siswa, maka di sekolah ini bukan hanya kurikulum sekolah internasional yang diterapkan melainkan ada beberapa hal yang menjadi ciri khas sekolah ini yakni siswa siswinya diajarkan Bahasa Mandarin serta diajarkan Naynyian Tradisional Tionghoa. Ternyata metode inilah yang menyebabkan orang-orang Cina menetapkan hati mempercayakan Jubelee school sebagai tempat anak-anak mereka belajar menimba ilmu. 

Salah satu suku yang terkenal memiliki karakter kuat dan pemberani yang mendiami wilayah Sulawesi selatan adalah suku Bugis. Sejak dahulu, Sulawesi Selatan dikenal memiliki keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Keanekaragaman budaya daerah Sulawesi Selatan, antara lain berupa peninggalan sejarah, tradisi, dan adat-istiadat, Salah satu peninggalan sejarah yang menyimpan berbagai aspek kebudayaan suku bangsa yang memiliki aksara sendiri ialah naskah. Orang Bugis adalah salah satu suku bangsa yang beruntung memiliki aksara sehingga aspek kebudayaan pada masa lampau masih dapat tersimpan dalam naskah Lontarak. Salah satu bentuk naskah Lontarak Bugis yang berhubungan dengan kearifan dan sarat dengan nilai  karakter dikenal dengan istilah pappaseng (pesan leluhur). Pappaseng dapat berupa nyanyian atau lagu yang mengandung wasiat atau nasehat.

 Elong sarat dengan makna dan pesan-pesan moral, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman hidup, sebagai pengatur tingkah laku pergaulan dalam masyarakat. Karena itu, perlu adanya upaya pengkajian secara serius guna mengungkap kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya terutama nilai edukatif yang diperlukan untuk pembinaan karakter generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Untuk membangun kebudayaan orang Bugis sebagai dasar mencapai kesempurnaan hidup, maka perlu menyediakan ramuan pengetahuan pengalaman masa silam yang lebih banyak. Hanya dengan demikian nilai-nilai budaya itu dapat menjiwai pertumbuhan sekalian aspek kebudayaan Indonesia, baik di masa kini maupun di masa depan.
Ada beberapa nyanyian Bugias yang dapat dijadikan media pembentuk karakter khusnya karakter cinta ilmu diantaranya;
1.       Engkalingani anakku
Bua ati cayya matakku
Narekko battoaki matu ancajiki tau medec eng,
Narekko battoaki matu ancajiki tau magguna
Tuntukki paddisengeng mauni maga belana
Aja mumangingngi bara mulolongengngi
Mupakkegunai lao ri agamamu
Mupakkegunai lao ri bangsamu
Indommu mellau tulung
Ri tungke-tungke wettu
Bara mulolongengngi
minasa madecemmu

artinya:

Dengarlah wahai anakku
Buah hati cahaya mataku
Jika kau besar nanti jadilah kau orang baik
Jika kau besar nanti jadilah kau orang berguna
                tuntutlah ilmu pengetahuan walaupun sangat jauh
                janganlah kau bosan agar engkau dapatkan keberhasilan
                kau gunakan pada agamamu
                kau gunakan pada bangsamu
ibumu selalu berdo’a
di tiap-tiap waktu
agar kelak kau dapati
cita-cita baikmu
               
Elong atau lagu di atas biasanya dinyanyikan seorang ibu dalam proses menidurkan anaknya sambil diayun atau dibelai lembut punggung dan diusap kepalanya hingga anak tersebut tertidur. dengan seringnya anak mendengar lagu tersebut waktu kecil diharapkan pada diri anak tertanam rasa cinta pada ilmu pengetahuan kelak hingga dewasa. Sang ibu berharap anak-anaknya kelak meraih kesuksesan melebihi kedua orangtuanya. Orang tua meyakini bahwa hanya dengan menuntut ilmu pengetahuan yang tinggi pantang menyerah mampu meraih kesuksesan.  Elong tersebut pada bait pertama mengisyaratkan betapa seorang ibu memuji anaknya dengan panggilan yang sangat indah yaitu buah hati cahaya mataku agar kelak ketika dewasa dapat menjadi anak yang baik dan berguna. Bait kedua tentang harapan ibu agar kelak anaknya dapat mendedikasikan ilmunya dalam urusan agama dengan menjadi ulama ahli di bidang agama Islam dan dalam urusan kenegaraan dengan menjadi pejabat Negara. Selain itu elong ini juga menjelaskan tentang konsekuensi menuntut ilmu pengetahuan yakni harus berjauhan antara ibu dan anak, ibu harus ikhlas melepas anaknya merantau menuntut ilmu dan anak bersungguh-sunggu belajar agar tercapai yang dicita-citakan. Hal tersebut dijelaskan pada bait terakhir lagu ini berisi pesan bahwa sekalipun anak jauh dari ibunya dalam merantau menuntut ilmu tapi iringan do’a dari kedua orang tua selalu bersama sang anak agar anak berhasil meraih cita-citanya. Di kalangan masyarakat Bugis banyak dijumpai orang tua yang tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah namun anak-anaknya sukses berpendidikan tinggi dan pengusaha sukses.
2.       Ajalaloki nengka mallupai gurutta
Iyyatu nassabari narilolongeng decengnge
Iyyami nassabari naengka paddisengetta
Mancaji suloi ri lino ri ahera
                Engngerangngi ri beccutta
Narapi lettu battowa
                Masussana temmangingngi sibawa ati sabbara
                Mamuarekki mancaji tau makkeguna

Artinya:

Janganlah sekali-kali kau lupakan gurumu
Dialah penyebab kau temukan kebaikan
Dia juga penyebab sehingga kita dapat ilmu
Menjadi pelita di dunia dan di akhirat
                Ingatlah waktu kecilmu
                Hingga kau dewasa kelak
                Susah dan tanpa bosan disertai hati yang sabar
Semoga kau jadi kelak orang berguna
                Elong di atas sering dinyanyikan pada acara penammatan siswa atau ada acara perlombaan di sekolah  dan menjelaskan tentang pesan seorang guru agar jangan melupakan jasa guru karena guru menjadi penyebab seseorang meraih kebaikan juga mendapatkan ilmu pengetahuan. Ilmu itu adalah pelita penerang dalam meraih kemudahan hidup di dunia dan di akhirat. Pada bait terakhir lagu ini dijelaskan tentang pentingnya anak mengenang waktu kecinya tentang pengorbanan seorang guru. Betapa berat perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh guru dalam mendidik siswanya. Mendidik manusia bukan hanya dilakukan di waktu kecil melainkan hingga dewasa. Guru merasakan penderitaan yang luar bisa dalam mendidik dan mendewasakan anak. Namun demikian, guru tak pernah bosan bahkan dengan hati yang sabar selalu mendoakan siswanya agar menjadi orang berguna di masa depan.

3.       Alamasse sea mua
Tau naompori sesse kale
Nasaba riwettu baiccu’na
Dememeng naengka namagguru
                Baiccuttamitu naweddissiseng
                Narekko battowaki masussani
                Nasaba maraja nawa-nawani
                Enrengnge poletoni akuttungnge

Artinya:

Alangkah sia-sia
Orang yang menyesal
Sebab waktu kecilnya
Tidak pernah sama sekali belajar
                Waktu kecil saja memungkinkan belajar
                Jika telah dewasa susah belajar
Sebab kalo sudah tua banyak pikiran
                Juga datang rasa malas
Elong di atas menjadi nyanyian wajib pada jenjang pendidikan usia dini dan jenjang sekolah dasar di Kabupaten Bone. Kabupaten Bone adalah pusat komunitas masyarakat Bugis yang mendiami wilayah propinsi Sulawesi Selatan selain beberapa kabupaten lainnya seperti Wajo, Soppeng dan Sidenreng Rappang. Bahkan lagu ini sudah punya nada dan dapat dimainkan dengan alat musik modern seperti piano, seruling dan lain-lain. Lagu ini selalu diperlombakan dalam berbagai event terutama di acara tujuhbelasan oleh siswa Sekolah Dasar dalam bentuk vocal grup dan diiringi musik modern dan seruling.  Pesan yang terkandung dalam lagu ini menjelaskan tentang penyesalan orang dewasa yang pada waktu kecil malas belajar dan kalau sudah dewasa sulit belajar karena selain banyak pikiran juga dihinggapi rasa malas. Namun apalah artinya sebuah penyesalan. Dalam sebuah pepatah berbunyi sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna.

      4.     Bali bola makawee padai silessurengnge
Sitirowang ri decengnge tessitirowang ri jae
Ribencinna balibolae siri ati temmagguna
Macipini lolangengnge nakurangini dallee
Nigi nigi tau mateppe taroi napakalebbi
Yamanenna bali bolana siajing tessiajinna
                Tungke-tungke bali bolae Engka maneng appunnanna
                Bicara sipatalinge pangkaukengnge sitinaja

                Artinya:
               
                Tetangga dekat bagaikan saudara
                Saling menunjukkan kebaikan dan tidak saling menunjukkan kejahatan
                                                Kebencian pada tetangga disertai iri hati tidaklah berguna
                                                Sempit pergaulan berkurang rezki
                                Barang siapa yang beriman hendaklah memuliakan
                Semua tetangganya keluarga maupun bukan keluarga
                                                Tiap-tiap tetangga mempunyai hak
                                                Bicara saling mengingatkan dan perbuatan harus sesuai biasanya
Lagu ini sangat fenomenal di kalangan generasi yang berusia 30 tahun ke atas, namun sudah mulai tidak dikenal pada generasi yang berusia  dibawah 30 tahun. Hal tersebut disebabkan tidak adanya wadah yang dapat melestarikan lagu semacamnya. Untuk itulah salah satu faktor penyebab penulis mengangkat kajian ini sebagai upaya pelestarian budaya elong yang sarat dengan nilai karakter. Seperti pada lagu ini memuat pesan tentang pentingnya seseorang memiliki karakter peduli sosial khusunya berbuat baik pada tetangga. Salah satu faktor penyebabTerjadinya berbagai kekerasan baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat karena terkikisnya nilai-nilai karakter peduli sosial di kalangan individu dan masyarakat umum. lagu ini berisi pesan bahwa tetangga dekat bagaikan saudara harus saling menunjukkan kebaikan dan tidak saling menunjukkan kejahatan, kebencian pada tetangga disertai iri hati tidaklah berguna karena menyebabkan sempit pergaulan dan berkurang rezki. Tetangga yang dimaksud disini bukan hanya yang tinggal di dekat rumah namun juga kepada teman sepermainan, teman sekolah, relasi bisnis maupun rekan kerja di kantor.
Saya berharap semoga lagu lagu Bugis ini dapat kembali digaungkan di tengah masyarakat Bugis sebagai salah satu metode pembentukan karakter melalui pelestarian di Lembaga Pendidikan Dasar.  Saya selaku salah seorang dari 11 orang pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bone hari ini mengikuti rapat rencana program kerja Dewan Pendidikan Kabupaten Bone saya berharap lagu-lagu ini dapat diperlombakan di iven tujuh belasan sehingga semua masyarakat akan mengenang dan mengenalnya.

2 komentar:

  1. Subhanallah.. Nyanyian yg syarat akan petuah

    BalasHapus
  2. Masya Allah sehat selalu puang
    Agar selalu menebar kebaikan
    Di mana pun dan kapan pun

    BalasHapus

7 PERBEDAAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM

Mengawali pertemuan ini marilah kita bersama sama mengumandangkan lafaz pujian kepada Allah Azza wajallah sang pemilik segala kenikmatan den...