Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa bernyanyi, termasuk musik
dapat membantu prestasi anak dalam banyak hal. Sekolah St. Augustine School of
the Arts, Amerika, yang hampir seluruh peserta didiknya berasal dari keluarga
miskin dan terbelakang sangat senang belajar, terlebih ketika belajar musik,
bahkan mengambil tes di luar jam sekolah untuk bermain musik. Hasilnya, anak
didik di sekolah ini memiliki prestasi
akademik yang termasuk paling tinggi di seluruh Amerika. Lebih dari itu survey
membuktikan bahwa tiga dari 17 negara yang peserta didiknya setingkat SMP,
unggul di bidang sains adalah Negara yang memasukkan pelajaran musik dengan
sangat intensif di dalam kurikulum sekolahnya. Ketiga Negara tersebut adalah
Hongaria, Jepang dan Belanda.
Selain itu, seni
musik maupun bernyanyi mempunyai sifat unik yang mampu membuka pintu gerbang
memasuki pikiran dan wawasan baru. Bermain musik dan bernyanyi juga dapat
menjadi stimulan bagi imajinasi seluruh bagian otak secara maksimal, sebab
ketika mendengarkan sebuah musik, lagu atau bernyanyi, otak kiri yang memiliki
potensi bahasa, logika, matematika dan akademik akan memproses lirik lagu yang
didengar atau dinyanyikan. Sedangkan otak kanan yang memiliki potensi irama,
persamaan bunyi, gambar, emosi dan kreativitas akan memproses musik dan
nyanyian yang didengar. Tahun 2013 saya berkunjung ke salah satu sekolah bertaraf Internasional di Jakarta berlokasi di tepi danau Sunter kampus I (ruang belajar) dan di puncak sekitar Bogor kampus II (tempat outborn,refreshing ilmiah) sekolah tersebut adalah "Jubilee School" sangat menarik sekolah internasional ini karena didirikan oleh seorang Habib terntu saja berketurunan Arab dan masih sangat dekat kekerabatan saya dengan pemilik sekolah ini yakni Habib Sayyid Ibrahim Abdollah Assegaf lahir di tanah Bugis tepatnya di kota Sengkang Kabupaten Wajo namun dibesarkan di kota Makassar lalu hijrah ke Jakarta, hal paling menarik yang saya maksud adalah meskipun pemilik yayasan dan semua pengelola yayasan ini beragama Islam berketurunan Arab dan Bugis, namun siswanya yang jumlahnya ribuan 90 % keturunan Tionghoa/Cina yang beragama Nasrani, Kongfucu dan Budha. ketika saya konfirmasi lebih jauh kepada pemilik yayasan yang tak lain saudara sepupu saya beliau mengatakan bahwa sekolah bertaraf Internasional mahal biayanya sehingga hanya orang-orang berduit yang bias mengenyam Pendidikan di sekolah ini, sementara umumnya orang Cina berduit. Melihat tingginya tingkat persaingan merekrut siswa, maka di sekolah ini bukan hanya kurikulum sekolah internasional yang diterapkan melainkan ada beberapa hal yang menjadi ciri khas sekolah ini yakni siswa siswinya diajarkan Bahasa Mandarin serta diajarkan Naynyian Tradisional Tionghoa. Ternyata metode inilah yang menyebabkan orang-orang Cina menetapkan hati mempercayakan Jubelee school sebagai tempat anak-anak mereka belajar menimba ilmu.
Salah satu suku
yang terkenal memiliki karakter kuat dan pemberani yang mendiami wilayah
Sulawesi selatan adalah suku Bugis. Sejak dahulu, Sulawesi Selatan dikenal
memiliki keanekaragaman budaya yang bernilai tinggi. Keanekaragaman budaya
daerah Sulawesi Selatan, antara lain berupa peninggalan sejarah, tradisi, dan adat-istiadat, Salah
satu peninggalan sejarah yang menyimpan berbagai aspek kebudayaan suku bangsa
yang memiliki aksara sendiri ialah naskah. Orang Bugis adalah salah satu suku
bangsa yang beruntung memiliki aksara sehingga aspek kebudayaan pada masa
lampau masih dapat tersimpan dalam naskah Lontarak. Salah satu bentuk naskah
Lontarak Bugis yang berhubungan dengan kearifan dan sarat dengan nilai karakter dikenal dengan
istilah pappaseng (pesan leluhur). Pappaseng dapat berupa nyanyian
atau lagu yang mengandung wasiat atau nasehat.
Elong sarat dengan makna dan pesan-pesan
moral, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan
pedoman hidup, sebagai pengatur tingkah laku pergaulan dalam masyarakat. Karena
itu, perlu adanya upaya pengkajian secara serius guna mengungkap kembali
nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya terutama nilai edukatif yang diperlukan
untuk pembinaan karakter generasi sekarang dan generasi yang akan
datang. Untuk membangun kebudayaan orang Bugis sebagai
dasar mencapai kesempurnaan hidup, maka perlu menyediakan ramuan pengetahuan
pengalaman masa silam yang lebih banyak. Hanya dengan demikian nilai-nilai budaya itu dapat menjiwai
pertumbuhan sekalian aspek kebudayaan Indonesia, baik di masa kini maupun di
masa depan.
Ada beberapa nyanyian Bugias yang dapat dijadikan media pembentuk karakter khusnya karakter cinta ilmu diantaranya;
1.
Engkalingani anakku
Bua ati cayya matakku
Narekko battoaki matu ancajiki tau medec eng,
Narekko battoaki matu ancajiki tau magguna
Tuntukki
paddisengeng mauni maga belana
Aja
mumangingngi bara mulolongengngi
Mupakkegunai
lao ri agamamu
Mupakkegunai
lao ri bangsamu
Indommu mellau
tulung
Ri
tungke-tungke wettu
Bara
mulolongengngi
minasa
madecemmu
artinya:
Dengarlah wahai
anakku
Buah hati
cahaya mataku
Jika kau besar
nanti jadilah kau orang baik
Jika kau besar
nanti jadilah kau orang berguna
tuntutlah ilmu pengetahuan
walaupun sangat jauh
janganlah kau bosan agar engkau
dapatkan keberhasilan
kau gunakan pada agamamu
kau gunakan pada bangsamu
ibumu selalu
berdo’a
di tiap-tiap
waktu
agar kelak kau
dapati
cita-cita
baikmu
Elong atau lagu di
atas biasanya dinyanyikan seorang ibu dalam proses menidurkan anaknya sambil
diayun atau dibelai lembut punggung dan diusap kepalanya hingga anak tersebut
tertidur. dengan seringnya anak mendengar lagu tersebut waktu kecil diharapkan
pada diri anak tertanam rasa cinta pada ilmu pengetahuan kelak hingga dewasa.
Sang ibu berharap anak-anaknya kelak meraih kesuksesan melebihi kedua
orangtuanya. Orang tua meyakini bahwa hanya dengan menuntut ilmu pengetahuan
yang tinggi pantang menyerah mampu meraih kesuksesan. Elong tersebut pada bait pertama mengisyaratkan
betapa seorang ibu memuji anaknya dengan panggilan yang sangat indah yaitu buah
hati cahaya mataku agar kelak ketika dewasa dapat menjadi anak yang baik dan
berguna. Bait kedua tentang harapan ibu agar kelak anaknya dapat mendedikasikan
ilmunya dalam urusan agama dengan menjadi ulama ahli di bidang agama Islam dan
dalam urusan kenegaraan dengan menjadi pejabat Negara. Selain itu elong ini
juga menjelaskan tentang konsekuensi menuntut ilmu pengetahuan yakni harus
berjauhan antara ibu dan anak, ibu harus ikhlas melepas anaknya merantau
menuntut ilmu dan anak bersungguh-sunggu belajar agar tercapai yang
dicita-citakan. Hal tersebut dijelaskan pada bait terakhir lagu ini berisi
pesan bahwa sekalipun anak jauh dari ibunya dalam merantau menuntut ilmu tapi
iringan do’a dari kedua orang tua selalu bersama sang anak agar anak berhasil
meraih cita-citanya. Di kalangan masyarakat Bugis banyak dijumpai orang tua yang
tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah namun anak-anaknya sukses
berpendidikan tinggi dan pengusaha sukses.
2.
Ajalaloki nengka mallupai gurutta
Iyyatu
nassabari narilolongeng decengnge
Iyyami
nassabari naengka paddisengetta
Mancaji suloi
ri lino ri ahera
Engngerangngi ri beccutta
Narapi lettu
battowa
Masussana temmangingngi sibawa
ati sabbara
Mamuarekki mancaji tau makkeguna
Artinya:
Janganlah
sekali-kali kau lupakan gurumu
Dialah penyebab
kau temukan kebaikan
Dia juga
penyebab sehingga kita dapat ilmu
Menjadi pelita
di dunia dan di akhirat
Ingatlah waktu kecilmu
Hingga kau dewasa kelak
Susah dan tanpa bosan disertai
hati yang sabar
Semoga kau jadi
kelak orang berguna
Elong di atas sering
dinyanyikan pada acara penammatan siswa atau ada acara perlombaan di
sekolah dan menjelaskan tentang pesan
seorang guru agar jangan melupakan jasa guru karena guru menjadi penyebab
seseorang meraih kebaikan juga mendapatkan ilmu pengetahuan. Ilmu itu adalah
pelita penerang dalam meraih kemudahan hidup di dunia dan di akhirat. Pada bait
terakhir lagu ini dijelaskan tentang pentingnya anak mengenang waktu kecinya
tentang pengorbanan seorang guru. Betapa berat perjuangan dan tantangan yang
dihadapi oleh guru dalam mendidik siswanya. Mendidik manusia bukan hanya
dilakukan di waktu kecil melainkan hingga dewasa. Guru merasakan penderitaan
yang luar bisa dalam mendidik dan mendewasakan anak. Namun demikian, guru tak
pernah bosan bahkan dengan hati yang sabar selalu mendoakan siswanya agar
menjadi orang berguna di masa depan.
3.
Alamasse sea mua
Tau naompori
sesse kale
Nasaba riwettu
baiccu’na
Dememeng
naengka namagguru
Baiccuttamitu naweddissiseng
Narekko battowaki masussani
Nasaba maraja nawa-nawani
Enrengnge poletoni akuttungnge
Artinya:
Alangkah
sia-sia
Orang yang
menyesal
Sebab waktu
kecilnya
Tidak pernah
sama sekali belajar
Waktu kecil saja memungkinkan
belajar
Jika telah dewasa susah belajar
Sebab kalo sudah
tua banyak pikiran
Juga datang rasa malas
Elong di atas menjadi nyanyian wajib pada jenjang pendidikan usia dini
dan jenjang sekolah dasar di Kabupaten Bone. Kabupaten Bone adalah pusat
komunitas masyarakat Bugis yang mendiami wilayah propinsi Sulawesi Selatan
selain beberapa kabupaten lainnya seperti Wajo, Soppeng dan Sidenreng Rappang.
Bahkan lagu ini sudah punya nada dan dapat dimainkan dengan alat musik modern
seperti piano, seruling dan lain-lain. Lagu ini selalu diperlombakan dalam
berbagai event terutama di acara tujuhbelasan oleh siswa Sekolah Dasar dalam
bentuk vocal grup dan diiringi musik modern dan seruling. Pesan yang terkandung dalam lagu ini menjelaskan
tentang penyesalan orang dewasa yang pada waktu kecil malas belajar dan kalau
sudah dewasa sulit belajar karena selain banyak pikiran juga dihinggapi rasa
malas. Namun apalah artinya sebuah penyesalan. Dalam sebuah pepatah berbunyi
sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna.
4. Bali bola makawee padai silessurengnge
Sitirowang ri
decengnge tessitirowang ri jae
Ribencinna
balibolae siri ati temmagguna
Macipini
lolangengnge nakurangini dallee
Nigi nigi tau
mateppe taroi napakalebbi
Yamanenna bali
bolana siajing tessiajinna
Tungke-tungke bali bolae Engka
maneng appunnanna
Bicara sipatalinge
pangkaukengnge sitinaja
Artinya:
Tetangga dekat bagaikan saudara
Saling menunjukkan kebaikan dan
tidak saling menunjukkan kejahatan
Kebencian
pada tetangga disertai iri hati tidaklah berguna
Sempit
pergaulan berkurang rezki
Barang siapa
yang beriman hendaklah memuliakan
Semua tetangganya keluarga maupun
bukan keluarga
Tiap-tiap
tetangga mempunyai hak
Bicara
saling mengingatkan dan perbuatan harus sesuai biasanya
Lagu ini
sangat fenomenal di kalangan generasi yang berusia 30 tahun ke atas, namun
sudah mulai tidak dikenal pada generasi yang berusia dibawah 30 tahun. Hal tersebut disebabkan
tidak adanya wadah yang dapat melestarikan lagu semacamnya. Untuk itulah salah
satu faktor penyebab penulis mengangkat kajian ini sebagai upaya pelestarian
budaya elong yang sarat dengan nilai karakter. Seperti pada lagu ini
memuat pesan tentang pentingnya seseorang memiliki karakter peduli sosial
khusunya berbuat baik pada tetangga. Salah satu faktor penyebabTerjadinya
berbagai kekerasan baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat
karena terkikisnya nilai-nilai karakter peduli sosial di kalangan individu dan
masyarakat umum. lagu
ini berisi pesan bahwa tetangga dekat bagaikan saudara harus saling menunjukkan
kebaikan dan tidak saling menunjukkan kejahatan, kebencian pada tetangga
disertai iri hati tidaklah berguna karena menyebabkan sempit pergaulan dan berkurang
rezki. Tetangga yang dimaksud disini bukan hanya yang tinggal di dekat rumah
namun juga kepada teman sepermainan, teman sekolah, relasi bisnis maupun rekan
kerja di kantor.
Saya berharap semoga lagu lagu Bugis ini dapat kembali digaungkan di tengah masyarakat Bugis sebagai salah satu metode pembentukan karakter melalui pelestarian di Lembaga Pendidikan Dasar. Saya selaku salah seorang dari 11 orang pengurus Dewan Pendidikan Kabupaten Bone hari ini mengikuti rapat rencana program kerja Dewan Pendidikan Kabupaten Bone saya berharap lagu-lagu ini dapat diperlombakan di iven tujuh belasan sehingga semua masyarakat akan mengenang dan mengenalnya.
Subhanallah.. Nyanyian yg syarat akan petuah
BalasHapusMasya Allah sehat selalu puang
BalasHapusAgar selalu menebar kebaikan
Di mana pun dan kapan pun