Suku Bugis merupakan sebuah etnis terbesar yang mendiami pulau Sulawesi bagian Selatan Sejak dahulu kala Sulawesi Selatan dikenal memiliki keanekaragaman budaya yang tinggi. antara lain berupa peninggalan sejarah, tradisi, dan adat-istiadat, Salah satu peninggalan sejarah yang dimiliki orang Bugis adalah aksara lontarak. Dari aksara inilah lahir naskah yang dapat dibaca generasi sekarang. Aksara Bugis biasa juga disebut huruf lontarak. Orang Bugis beruntung memiliki aksara sehingga aspek kebudayaan pada masa lampau masih dapat tersimpan dalam naskah lotr (lontarak/aksara). Salah satu bentuk naskah lotr augii (Lontarak Ugi/aksara Bugis) yang berhubungan dengan kearifan dan sarat dengan nilai dan karakter dikenal dengan istilah (ppaseng) artinya ‘Pesan-pesan, nasihat, maupun wasiat. (paseng) merupakan satu pernyataan yang mengandung nilai karakter dan seni keindahan berbahasa, selain itu pesan dalam bahasa Bugis dapat juga berfungsi sebagai sistem sosial, maupun sistem budaya dalam kelompok masyarakat Bugis. Dalam ppsE/pappaseng memuat gagasan yang besar dan ide-ide yang luhur, pengalaman yang berharga, pertimbangan yang mumpuni tentang kebaikan dan keburukan dalam mengarungi kehidupan ini.
(paseng/pesan) berisi
wasiat moral karena di dalamnya terdapat nilai-nilai karakter yang dapat
dijadikan pandangan hidup dan pengatur tingkah laku pergaulan dalam kehidupan
bermasyarakat. Karena itulah, diperlukan adanya upaya serius guna mengkaji dan
mengungkapkan kembali nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya terutama
nilai pendidikan yang diperlukan untuk pembinaan karakter generasi muda sebagai calon
pemimpin (ponggawa) di masa depan. Untuk
membangun kebudayaan Bugis, maka perlu upaya penggalian pengetahuan yang bersumber dari pengalaman masa silam para leluhur berupa paseng (pesan) yang terwariskan melalui Bahasa tutur (lisan) maupun dalam karya tulis semisal Lagaligo untuk dijadikan teladan generasi sekarang
dan akan datang.
Orang Bugis memiliki karakter kepemimpinan (ponggawa) yang baik karena mereka dikenal pemberani (warani) dan pekerja keras (reso temmangingngi) serta pantang menyerah (teya lara'). dalam sebuah webinar yang berlangsung hari Sabtu 27 Juni 2020 saya mengikuti acara yang digagas oleh dalam acara tersebut menampilkan banyak pemantik diantaranya; prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, (Bugis Bone) imam Syamsih Ali (Bugis Bulukumba) yang mukim di Amerika Serikat serta Prof. Dr. H. Alwi Shihab, MA (Bugis Sidrap). semua pemateri tampil dengan apik memberikan wawasan keilmuan terkait Pendidikan, agama, hokum dan budaya. saya sangat tertarik dengan pemaparan Prof. Nasar yang banyak mengungkap falsafah hidup orang Bugis dalam bentuk pappaseng to riolo (pesan-pesan leluhur) terkait kepemimpinan. menurut Beliau karakter kepempinan orang Bgis tak lepas dari pesan leluhur yang menjiwai seluruh aspek kehidupannya. diantara pesan yang dimaksud adalah.
1. Narekko laoko sompe ri kamponna tauwwe ajalalo muassarang tellue cappa iayanaritu, cappa lila, cappa kawali, nenniya cappa katawang artinya: (Jika engkau pergi merantau di negeri orang jangan pernah engkau berpisah dengan 3 ujung yaitu; ujung lidah (kemampuan berdiplomasi), ujung kawali/senjata tajam khas Bugis yang berarti (keberanian) dan ujung kemaluan (pernikahan). 3 kemampuan inilah yang menjadi dasar seseorang bias menjadi ponggawa atau pemimpin yaitu kemampuan berdiplomasi ketika menghadapi masalah, keberanian jangan pernah takut agar disegani lawan serta pernikahan dengan putri Raja agar bisa dekat dengan pusat kekuasaan.
2. narekko sompekko ri kamponna tauwwe ajalalo muamaelo mancaji anagguru naekiya ancajilaloko ponggawa namotoni puggawa parampomi artinya: Jika engkau merantau ke negeri orang jangan pernah engkau mau menjadi anak buah (bawahan) jadilah pemimpin walaupun itu hanya bosnya perampok, maka jangan heran ketika ke Jakarta ada bos preman orang Bugis tapi lebih banyak jadi pemimpin yang patut diteladani seperti; imam besar masjid istiqlal (prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA), prof. Dr. H. Quraish Shihab, MA (mantan Menteri agama RI), Prof. Dr. H. Alwi Shihab, MA (mantan Menteri Luar negeri RI), HM. Jusuf kalla (mantan wapres 2 periode dengan 2 presiden yang berbeda), prof. Dr. H. Musda Mulia, MA (tokoh muslimah reformis yang pemikirannya menjadi referensi ilmua dunia terkait demokrasi, HAM, kesetaraan dan keadilan gender), dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Bugis lainnya yang patut untuk diteladani saat ini yang tak dapat saya tulis namanya satu persatu.
3.bua tassanramua artinya: (buah jika jatuh pasti tumbuh berkembang beranak pinak menjadi banyak dan memberi manfaat bagi manusia yang banyak) pesan leluhur ini menjadikan suku Bugis dimanapun mereka berada menganggap sama dengan kampung halamannya sendiri mereka membangun peradaban sesuai keahlian mereka masing-masing membaur dengan masyarakat setempat menjadi warga yang baik karena mereka berperinsip dimanapun mereka berada distulah dia harus massanra (menebar) kebaikan. untuk kemakmuran yang dapat disemai bersama. karena itu orang Bugis terenal dengan keramahannya, suka menolong sesame tanpa mebeda-bedakan asal usul, Bahasa, agama dan tradisi seseorang, orang Bugis mudah bergaul berinteraksi baik dalam hubungan perdagangan penjual dan pembeli, hubungan guru dan murid, hubungan punggawa pabbagang (nelayan) dengan sawinya, hingga hubungan dalam pentas kekuasaan antara atasan dan bawahan.
4. deggaga tau mullei mancaji ponggawa magello narekko denalebbiriolo mancaji ana buah matturu ri ponggawana artinya: (mustahil seseorang itu menjadi pemimpin yang hebat jika tidak pernah menjadi bawahan yang patuh pada atasan).
Dengan pesan-pesan leluhur Bugis ini menjadikan orang Bugis secara kultural mewarisi karakter ponggawa, hingga dimanapun mereka berada akan berusaha menguasai asset-asset strategis di berbagai bidang kehidupan baik di bidang perdagangan, kelautan, politik, sosial budaya, agama, hukum dan Pendidikan. termasuk pertahanan dan keamanan. semoga tulisan ini menginspirasi kita menjadi ponggawa (pemimpin) yang baik dan bertanggung jawab hingga dapat diteladani oleh berbagai kalangan.
wallahu a'lam bi ssawab
4. deggaga tau mullei mancaji ponggawa magello narekko denalebbiriolo mancaji ana buah matturu ri ponggawana artinya: (mustahil seseorang itu menjadi pemimpin yang hebat jika tidak pernah menjadi bawahan yang patuh pada atasan).
Dengan pesan-pesan leluhur Bugis ini menjadikan orang Bugis secara kultural mewarisi karakter ponggawa, hingga dimanapun mereka berada akan berusaha menguasai asset-asset strategis di berbagai bidang kehidupan baik di bidang perdagangan, kelautan, politik, sosial budaya, agama, hukum dan Pendidikan. termasuk pertahanan dan keamanan. semoga tulisan ini menginspirasi kita menjadi ponggawa (pemimpin) yang baik dan bertanggung jawab hingga dapat diteladani oleh berbagai kalangan.
wallahu a'lam bi ssawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar