Sabtu, 27 Juni 2020

Mengapa Orang Bugis Gemar Merantau (Sompe')?

Orang Bugis terkenal dengan kegemaran merantau (sompe') bukan hanya dalam wilayah Sulawesi lintas kabupaten tapi hingga ke seluruh pelosok negara kesatuan Republik Indonesia bahkan hingga ke manca negara. pada hari Sabtu 27 Juni 2020 saya mengikuti pertemuan cendikiawan Bugis Makassar I tahun 2020 dengan tema "aktualisasi cendikiawan Bugis Makassar dalam membangun peradaban bangsa" acara ini berlangsung 2 hari yakni Sabtu dan Ahad tanggal 27-28 Juni 2020. Webinar ini berlangsung melalui aplikasi zoom di bagi ke dalam 4 ruang grup diskusi salah satu ruang tersebut adalah ruang Pendidikan, agama, budaya dan hukum. Ruang diskusi 2 ini  diikuti oleh hampir 300 orang umumnya orang Bugis dan Makassar para perantau dari berbagai daerah bahkan banyak dari luar negeri termasuk pamateri Imam Syamsih Ali langsung dari Amerika Serikat memaparkan materinya sedangkan peserta ada dari Arab Saudi, Mesir, Doha Qatar, Malaysia, dll. Pada ruang diskusi 2 ini menampilakan banyak pemantik, diantara pemantik tersebut yang paling banyak mengungkap terkait budaya Bugis dengan menggunakan logat Bahasa Bugis yang sangat fasih hingga mengungkap banyak sekali papaseng toriolo (pesan leluhur) adalah Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. dalam pemaparannya beliau mengungkap bahwa peradaban Bugis tidak hanya bisa diitemui pada  daerah asal komunitas Bugis yakni di Sulawesi Selatan, melainkan peradan Bugis dapat dijimpai pada karakter dan kehidupan orang Bugis dimanapun mereka berada karena orang Bugis adalah salah satu suku yang amat gemar merantau dan patuh memegang prinsip paseng toriolo (pesan leluhur). menurut beliau ada 4 sebab orang Bugis itu merantau yaitu; siri masiri, siri ripakasiri, kurassiri dan matanre siri.. selanjutnaya penulis akan jabarkan sesuai pengalaman dan pengetahuan sebagai orang Bugis sebagi berikut:
1. siri masiri yaitu malu yang bersumber dari dorongan dari dalam diri sendiri nassabari degaga parumpaja ri kamponna artinya mereka merantau akibat tidak mau dihina karena terbatasnya sumber penghidupan di kampung halaman tanah kehirannya. Biasanya orang seperti ini akan memaksimalkan segala daya dan upaya di negeri rantauan agar bisa sukses dan kabar kesuksesannya akan diberitakan ke kampung halaman melalui para perantau lain atau dia sendiri pulang kampung untuk mengenang kampung halamannya sekaligus bersilaturrahim dengan sanak keluarga setelah berhasil dalam rantauan (tradisi mudik). Tradisi mudik ini biasanya berlangsung pada hari Raya atau menghadiri pesta pernikhana keluarga termasuk jika ada keluarga dekat wafat. 
2. siri ripakasiri artinya malu yang muncul karena dipermalukan biasanya terjadi akibat tradisi dipoppangi tanah (diusir dari kampung halaman akibat melakukan perbuatan yang melanggar adat) misalnya; berzina, kawin lari, membunuh, durhaka pada orang tua atau melakukan dosa besar lainnya sehingga dipali/dipaoppangi tanah (diusir/ dianggap telah mati ). umumnya orang seperti ini akan merantau sepanjang hayatnya karena malu kembali ke kampung halamannya karena dia sudah dianggap teah mati oleh keluarganya. orang seperti ini walaupun terusir dari kampungnya tapi kampung tujuannya tempat berlabuh akan menjadi kampung tinggalnya yang baru dan akan menjalani kehidupan normal di tempat barunya  itu hingga akhir hayatnya, mereka enggan pulang karena sudah danggap telah mati oleh keluarganya dan penduduk lainnya.  namun demikian dalam kenyataannya sampai hari ini khususnya pada kasus Kawin lari ada tradisi "maddeceng" yakni pasangan pengantin Kawin lari bisa kembali pulang kampung setelah sukses dalam rantauan dengan melakukan upaya mediasi dengan pihak keluarga melalui jasa orang yang disegani oleh keluarga (pihak ketiga yang dapat menjembatani kedua belah pihak dalam hal ini anak dan kediua orang tuanya hingga bisa berdamai kembali).
3. kurassiri/matesiri yakni merantau akibat sudah tidak punya harga diri lagi di kampung halaman. orang seperti ini umumnya kembali besilaturrahim jika sudah sukses dirantau meskipun adajuga yang memilih tidak kembali walaupun telah sukses akibat keluarga dekat sudah wafat semua.
4. matanre siri yaitu orang yang merantau akibat memiliki rasa malu yang tinggi. Dia merantau bukan karena dia miskinatau  kurang sumber penghidupan tapi dia ingin meraih hidup lebih baik dan menebar mandfaat kepada lingkungan sosial yang lebih luas. Biasanya kasus merantau dengan motif ini disebabkan seseorang itu punya potensi yang luar biasa dan merasa sulit berkembang dalam lingkungan sosial yang terbatas di kampung halaman umumnya mereka adalah ilmuan dan para cendikiawan yang hebat, setelah sukses di rantauan, mereka akan kembali membangun sarana dan prasarana kampung kelahirannya dengan mendidirikan masjid atau yayasan Pendidikan dan lain sebaginya. 
kesuksesan orang Bugis ri somperenna (dalam  rantauan )tak lepas dari pesan-pesan lehurur dan pesan agama tentunya. diantara pesan leluhur Bugis yang menginspirasi kesuksesan seseorang dalam rantauan adalah:
1. iyapa muita deceng narekko poleko sompe artinya seseorang baru dapat melihat sesuksesan dirinya jika ia pernah merantau
2. de nalabu' matanna essoe ri tengngana Bitarae artinya mustahil matahari tenggelam di tengah teriknya artinya seseorang tidak boleh menyerah pada takdir teruslah berusaha sepanjang matahari masih bersinar karena masih banyak harapan untuk meraih kesuksesan selama manusia itu belum wafat. jadi matahari bersinar diumpamakan kehidupan yang terus berjalan dan labu essoe diumpanmakan kematian, jadi selama matahari bersinar teruslah berjuang hingga ajal menjemput.
3. resopa temmangingi namalomo naletei pammasena dewatae artinya hanya dengan kerja keras sehingga mudah memperoleh rahmat dari Tuhan. paseng ini menyebkan karakter dasar masyarakat Bugis itu adalah kerja keras hanya saja jika dia dari kalangan bangsawan yang terbiasa dilayani terkadang cenderung malas bekerja dan suka memerintah walaupun tidak semua bangsawan itu malas. Namun ketika mereka merantau karakter pemalas itu akan hilang dan muncullah karakter aslinya sebagai orang Bugis yang pekerja keras, maka jangan heran ketika di kampung halaman kehidupannya biasa-biasa saja dan tidak begitu sukses namun setelah merantau berhasil meraih kehidupan yang lebih baik.   
4. lebbireng mui mate maddara naiya  mate malupu artinya lebih baik mati dalam keadaan luka parah dari pada mati kelaparan. ini tersirat makna usaha keras meraih penghidupan hingga digambarkan berdarah-darah hingga penuh luka bagai masyarakat Bugis lebih baik mati menderita karena berusaha dari pada mati kepalapan tanpa usaha.
5. Lebbirenggi tellenge naiya malie artinya lebih baik mati tenggelam dari pada mati karena hanyut. pesan ini mengandung makna pentingnya memupuk keberanian dalam hidup jangan lari dari kesulitan hidup tapi tetaplah bertahan bekerja keras hingga meraih kesuksesan.
wallahu a'lam

6 komentar:

  1. Terima kasih pesan toriolonya bu doktor...

    BalasHapus
  2. Terima kasih bu atas informasi yang disampaikan, sehingga saya bisa memahami bahwa sompe dalam bugis bukan hanya karena pergi mencari kesuksesan diluar ternyata juga tersirat makna dan pengajarannya sebagai pencarian pengalaman dan untuk menaikkan kehormatan sebagai orang bugis

    BalasHapus
  3. Sangat menarik sekali artikel ta bu

    Menambah wawasan sy pribadi sbg org bugis yg baru tahu ada paseng yg luar biasa

    Terima kasih ilmu nya bu Dr

    BalasHapus
  4. Super sekali tulisannya.. semoga masih ada tulisan selanjutnya...

    BalasHapus

7 PERBEDAAN KEDUDUKAN PEREMPUAN SEBELUM DAN SESUDAH DATANGNYA ISLAM

Mengawali pertemuan ini marilah kita bersama sama mengumandangkan lafaz pujian kepada Allah Azza wajallah sang pemilik segala kenikmatan den...